Senin, 25 April 2016

PANDANGAN HUMANISTIK (ALLPORT & ROGERS)

PANDANGAN HUMANISTIK
(Gordon Willard Allport & Carl Rogers)
 
Nama Anggota:
Ø  Brenda Amelia Panggabean
Ø  Deanysa Buggy Asih
Ø  Diah Ayu Romadhoni
Ø  Diena Islamiati Hanifah
Ø  Elfa InkabaturiaCiptanti
Ø  Eva Rosalina Christy
Ø  Farah Fuzyah Putri
Ø  Juliana Agnes
Ø  Karlina Septiyani
Ø  Khansa Larissa Desideria
Ø  Melysa
Kelas: 2PA18
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA


ALLPORT
Kepribadian menurut Allport adalah pengorganisasian dinamis dalam diri individu dimana sistem psikofisiknya menentukan perilaku dan pikirannya.
Ciri pribadi yang sehat menurut Alport :
     Pertama, pribadi yang sehat secara psikologis dicirikan oleh sikap proaktif, yaitu tidak hanya bereaksi seacara eksternal, tetapi juga sanggup bertindak dengan sadar terhadap lingkungannya dengan cara-cara baru dan inovatif, sehingga lingkungan pun bereaksi kepada mereka juga.
     Kedua, kepribadian yang sehat lebih termotivasikan oleh proses-proses sadar ketimbang pribadi yang terdistorsi, menjadikan mereka lebih fleksibel dan mandiri ketimbang pribadi sehat yang masih terus didominasi oleh motif-motif bawah sadar yang muncul dari pengalaman masa kanak-kanak.
Allport mengidentifikasikan enam kriteria bagi kepribadian yang sehat:
     Pertama, adalah perluasan konsep diri. Pribadi yang sehat terus berusaha mengidentifikasikan dan berparisipasi dalam peristiwa-peristiwa di luar diri mereka. Mereka tidak berpusat pada diri mereka sendiri, melainkan sanggup menyelami masalah dan aktivitas-aktivitas di luar dirinya.
     Kedua, pribadi yang sehat dicirikan oleh “hubungan hangat dirinya dengan orang lain”. Mereka memiliki kemampuan untuk mencintai orang lain dengan cara yang intim dan penuh kasih. Individu yang sehat secara psikologis memperlakukan orang lain dengan penuh penghargaan dan mereka menyadari bahwa kebutuhan, hasrat, dan harapan orang lain tidaklah berbeda dari yang mereka miliki.
     Ketiga, adalah rasa aman emosional dan penerimaan diri. Individu yang sehat menerima diri apa adanya dan memiliki apa yang disebut Allport muatan emotif. Pribadi yang sehat psikologisnya tidak begitu jengkel jika terdapat hal-hal yang tidak berjalan seperti yang direncanakan atau ketika mereka mengalami hal buruk. Demikian juga mereka senantiasa tidak merasa terluka karena sadar bahwa rasa frustasi dan tidak nyaman adalah bagian dari hidup itu sendiri.
     Keempat, pribadi yang sehat secara psikologis memiliki persepsi yang realistis tentang lingkungan sekitarnya. Mereka tidak hidup di dunia fantasia tau memaksakan realitas agar cocok dengan keinginannya. Mereka lebih berorientasi pada masalah daripada rasa egoismenya.
     Kelima, adalah insight (kedalaman wawasan) dan humor. Pribadi sehat mengenal dirinya sehingga tidak perlu melimpahkan kesalahan dan kelemahan mereka kepada orang lain. Mereka juga memiliki rasa humor yang tidak sinis, yang memberikan kemampuan untuk menertawakan diri sendiri daripada hanya mengandalkan tema-tema seksual atau agresivitas untuk memunculkan tawa dari orang lain.
     Keenam, adalah memiliki filsafat hidup yang menyatukan. Pribadi yang sehat memiliki konsep yang jelas tentang tujuan hidup. Tanpa ini, wawasan mereka akan terasa seperti kosong dan tandus, dan humor mereka akan merosot menajdi sinis dan picisan. Filsafat hidup yang menyatukan bisa berupa konsep agama. Pribadi dengan sikap religious yang sehat dan filsafah hidup yang menyatukan memiliki suara hati yang berkembang dengan baik dan memiliki hasrat kuat untuk melayani orang lain.
TAYANGAN TENTANG PANDANGAN HUMANISTIK (ALLPORT)
Kisah ini menceritakan seorang bapak asal Bali bernama Ketut Sweda pengusaha furniture sukses  yang sejak kecil sudah dipisahkan oleh kedua saudaranya dan tidak dapat melanjutkan pendidikannya karena hidup dalam kemiskinan. Selama 4 tahun ketut tinggal bersama saudara dari kakeknya, lalu ketut diajak oleh kakeknya ke denpasar lalu ia dipertemukan oleh saudara kandungnya. Kemudian ketutpun di angkat oleh bapak Osia sehingga akhirnya ia dapat berkumpul bersama kedua saudaranya, sejak saat itu ketutpun diajari bagaimana membuat furniture hingga dapat mengekspor barangnya.
Link video: https://www.youtube.com/watch?v=BvKrj6NbNbw
ROGERS
Teori Person-Centered
Meskipun konsep kemanusian Rogers pada dasarnya tidak berubah sejak awal 1940-an sampai meninggal pada 1987,Tetapi teorinya sudah mengalami beberapa prubahan nama. Selama tahun awal pendekatanya disebut “non-direktif” istilah yang tidak begitu keren yang terus di asosiasikan dengan namanya untuk waktu yang cukup lama. Kemudian nama mulai di ganti menjadi “clicnt-centered”,”person-centered”,dan “ person to person”. Dari semua teori ,teori person-centered Rogers yang paling mendekati standar ini. Salah satu contoh konstruksi jika-maka adalah Jika kondisi tertentu hadir , maka suatu proses meski akan terjadi ; jika proses semamca ini muncul,maka hasil-hasil tertentu bisa kita prediksi .Contoh yang lebih spesifik dapat ditemkan dalam terapi : Jika terapis kongruen dan mampu mengomunikasikan anggapan positif tanpa syarat dan empati yag akurat kepada klien,maka perubahan dalam terapi akan terjadi,jika prubahan dalam terapi terjadi,maka klien akan mengalami penerimaan dari lebih besarmpercaya diri lebih besar dan seterusnya. ( Kita akan mendiskusikan kongruensi anggapan positif tanpa-syarat,dan empati akurat lebih lengakap di bagian Psikoterapi ) .
Asumsi-Asumsi Dasar
Asumsi dasar teori Person-centered Rogers merumuskan dua Asumsi besar kecenderungan formatif dan kecenderungan mengaktualisasi .
Kecenderungan Formatif
Rogers menyebut proses ini kecenderungan formatif (formatif tendency) dan mengambil banyak contoh dari alam .Contohnya galaksi bintang-bintang yang kompleks terbentuk dari massa yang awalnya kurang begitu terorganisasikan ;kristal-kristal seperti butiran salju muncul dari uap yang tidak berbentuk ; organisme yang kompleks berkembang dari satu sel tunggal; dan kesadaran manusia berkembang dari awal bawah sadar primitif menjadi alam sadar yang sangat terorganisasikan .
Kecenderungan-Mengaktualisasi
Kebutuhan ini mencakup kebutuhan-kebutuhan dasar seperti makanan dan rasa aman,namun kebutuhan itu juga mencakup kecenderungan untuk melawan perubahan. Meskipun manusia memiliki hasrat kuat untuk memelihara status quo namun, mereka bersedia untuk belajar dan berubah. Kebutuhan ini menjadi lebih besar,berkembang dan mencapai pertumbuhan optimal yang disebut Rogers Perkembangan,kebutuhan untuk belajar hal-hal yang tidak segera mendapatkan penghargaan .Kebutuhan perkembangan ini terekspresikan dalam beragam bentuk ,seperti rasa ingin tau,kesukaan bermain eksploras diri persahabatan dan keyakinan bahwa seseorang dapat mencapai pertumbuhan psikologis. Pribadi miliki dalam dirinya daya kreatif untuk memecahkan maslah,mengubah konsep diri mereka,dan menjadi semakin terarah-pada-diri-sendiri ( self-directed). Individu-individu realitas,dan mereka tahu realitas tertentu kebih baik dari realitas lain.
Ketidakkongruenan (incongruency)
Organisme dan diri merupakan dua entitas terpisah yang dapat kongruen satu sama lain atau tidak. Kecenderungan- mengaktualisasi mengacu pada kecenderungan organisme untuk bergerak menuju pemenuhan, sedangkan aktualisasi-diri adalah hasrat untuk mencapai pemenuhan diri yang dipahami. Dua kecenderungan ini terkadang juga bisa bergantian posisi satu sama lai.
Ketidakseimbangan psikologis dimulai saat kita gagal untuk menyadari pengalaman-pengalaman keorganisme-an kita sebagai pengalaman diri : jika kita tidak menyimbolkan secara akurat pengalaman penghayatan organsmik tersebut menjadi kesadaran karena mereka akan tampak tidak konsisten dengan konsep-diri kita. Ketidakkongruenan antara konsep-diri dan penghayatan organismic adalah sumber gangguan psikolgis.
Kerapuhan. Rongers (1959) percaya bahwa manusia menjadi rapuh (vulnerable) saat mereka tidak menyadari cacat antara diri organismic dan pengalaman mereka yang signifikan. Karena kurang menyadari ketidakkongruenan ini, pribadi yang rapuh sering kali bersikap dengan cara-cara yang tidak komprehensif bukan hanya terhadap orang lain tetapi juga terhadap dirinya sendiri.
Kecemasan dan Ancaman. Rongers (1959, hlm, 204) mendefinisikan kecemasan sebagai “kondisi tidak nyaman atau ketegangan yang penyababnya tidak diketahui”. Kecemasan dan ancaman dapat dorong kita melangkah maju menuju kesehatan psikologis karena memberi sinyal pada kita bahwa penghayatan organismic sudah tidak lagi konsisten dengan konsep-diri kita. Namun begitu, keduanya bukan perasaan yang menyenangkan atau nyaman.
Pertahanan Diri
Kita memahami pengalaman dalam kesadaran namun gagal memahami makna yang sesungguhnya.Sementara penyangkalan (denial)  adalah penolakan untuk memahami pengalaman dalam kesadaran kita, atau minimal menjauhkan beberapa aspeknya mencapai simbiolis. Menurut Rogers (1959) baik distorsi maupun penyangkalan melayani tujuan yang sama- mereka mempertahankan presepsi kita tentang penghayatan organismik yang konsisten dengan konsep diri, mengizinkan kita mengabaikan atau menghalangi pengalaman yang dapat menyebabkan rasa cemas atau ancaman yang tidak menyenangkan.
Disorganisasi (Disorganization)
Kebanyakn orang terlibat dalam prilaku defensif namun kadang-kadang pertahanan diri ini gagal dan perilaku pun menjadi tidak lagi terorganisasikan, atau psikotik. Tetapi kenapa pertahanan diri bisa gagal?
Untuk menjawabnya,kita harus melacaknya dari prilaku tidak terorganisasikan yang memiliki asal usul sama dengan prilaku defensif normal, yaitu ketidakkongruenan penghayatan organismik dan konsep diri. Disorganisasi dapat muncul tiba-tiba, atau ber-lama. Ironisnya banyak priubadi rapuh terhadap disorganisasi prilaku ini selama terapi.Dalam kondisi disorganisasi ini, orang kadang bersikap konsisten dengan penghayatan organismik mereka dan kadang bersesuaian dengan konsep diri yang mereka lindungi.Contoh kasus adalah seorang perempuan yang awalnya sopan dan dapat mengendalikan diri dengan tepat,tiba-tiba mulai menggunakan kosakata yang jelas-jelas bernada seks dan kasar.
 Psikoterapi
Terapi client – centered mudah di ucapkan namun sulit di praktikkan.Singkatnya, pendekatan client-centered ingin agar pribadi yang rapuh atau cemas dapat tumbuh sehat secara psikologis, tetapi mereka harus menjalin kontak dengan terapis yang kongruen dan yang memahami terapis sebagai penyedia atmosfer penerimaan tanpa syarat dan empati akurat.
Proses Tahap – Tahap Perubahan Terapi
Jika kondisi kongruensi terapis, anggapan positif tanpa syarat dan mendengarkan secara empatik sudah muncul, maka proses perubahan terapis siap dilakukan.
Proses perubahan kepribadian yang konstruktif dapat diletakkan dalam sebuah kontinum dari sikap yang paling defensif sampai yang paling terintegrasi. Rogers (1961) membagi kontinum ini menjadi tujuh tahap :
1.      Tahap 1 à Dicirikan oleh ketidakrelaan klien untuk mengomunikasikan apapun tentang dirinya. Pribadi di tahapan ini biasanya tidak mencari bantuan namun, jika untuk beberapa alas an mereka datang ke terapi, biasanya mereka sangat rigid dan resisten terhadap perubahan. Mereka tidak mengakui adanya masalah yang menimpanya dan menolak untuk mengungkapkan perasaan atau emosinya.
2.      Tahap 2  à Klien menjadi agak kurang ketat. Mereka mulai membahas peristiwa – peristiwa eksternal dan orang lain, tetapi masih tidak mengakui atau gagal memahami perasaan – perasaan mereka sendiri. Namun mereka sudah mulai dapat membahas tentang perasaan – perasaan pribadi seolah-olah perasaan itu fenomena objektif.
3.      Tahap 3  à Klien menjadi lebih bebas untuk membicarakan diri mereka, meskipun masih sebagai objek. Klien membicarakan perasaan dan emosinya dengan menggunakan model kalimat past tense atau future tense, menghindari pembicaraan perasaan dan emosinya saat ini.
4.      Tahap 4 à Klien mulai membicarakan perasaan lebih dalam namun tidak satupun mengenai yang dirasakan sekarang. Saat klien mengekspresikan perasaan – perasaan saat ini, mereka biasanya terkejut dengan ungkapan ini. Mereka mungkin menyangkal atau mendistorsi pengalaman – pengalaman, meskipun memiliki juga beberapa kesadaran samar – samar bahwa mereka sanggup merasakan emosi di masa kini. Mereka menerima lebih banyak kebebasan dan tanggung jawab dari yang sudah mereka lakukan di tahap 3 dan mulai mengizinkan secara tentatif untuk terlibat dalam hubungan dengan terapis.

5.      Tahap 5 à Klien sudah mulai menjalani perubahan dan pertumbuhan yang signifikan. Merka dapat mengekspresikan perasaan – perasaan saat ini. Mereka mulai mengandalkan lokus internal evaluasi bagi perasaan mereka dan melakukan penemuan yang segar dan baru tentang diri mereka sendiri. Mereka juga mengalami pembedaan lebih besar perasaan – peraan dan mengembangkan apresiasi yang lebih besar bagi nuansa – nuansa diantara mereka. Selain itu, mereka mulai membuat keputusan – keputusan mereka sendiri dan menerima tanggung jawab bagi pilihan – pilihan mereka.

6.      Tahap 6 à Klien mengalami pertumbuhan dramatis dan pergerakan yang tidak dapat dibalikkan lagi, menjadi berfungsi atau mengaktualisasikan diri sepenuhnya. Mereka mengizinkan pengalaman – pengalaman yang sebelumnya disangkal atau didistorsi masuk ke dalam kesadaran yang bebas. Mereka mulai memiliki rasa perhatian dan sayang yang sejati bagi diri baru yang sudah terbentuk saat ini. Klien dapat mengalami seluruh diri-organismik mereka, seperti mengendurnya urat saraf, mengalirnya air mata, perbaikan sirkulasi darah, dan kehilangan simtim – simtom fisik.

7.      Tahap 7 à dapat terjadi diluar pertemuan terapi kerena pertumbuhan di tahap 6 sudah tidak bisa dibalikkan lagi. Mereka sanggup menggeneralisasikan pengalaman – pengalaman terapi ke dunia luar terapi. Mereka mengalami keyakinan untuk menjadi diri sendiri di semua waktu, untuk memiliki, dan merasakan secara mendalam totalitas penglaman mereka, dan untuk menghidupkan pengalaman – pengalaman termasuk di masa kini.

Kondisi kondisi
Rogers (1959) merumuskan bahwa agar pertumbuhan terapi bisa terjadi, kondisi kondisi tersebut harus cukup.
Pertama, seorang klien yang cemas atau rapuh harus menjalanin kontak terapi pada yang memiliki empati dan tanggapan yang positif
Kedua, klien harus mengetahui bahwa ciri ini dimiliki oleh calon terapi
Ketiga, kontak antara terapi dan klien harus terjadi berdurasi
Signitifikasi hipotesis rogers ini sangat revolusionar. Dihampir setiap terapi dari yang pertama sampai yang ketiga klien dan pasien termotivasi oleh sejumlah tegangan saat mencari pertolongan dan hubungan antara klien dan terapi berlangsung dalam periode tertentu.
Meskipun ketiga kondisi ini dibutuhkan secara psikologis Rogers yakin bahwa kongruensi lebih mendasar ketimbangan anggapan positif tanpa syarat atau mendengarkan secara empatik.
Kongruensi adalah kualitas kualitas umum yang harus dimiliki oleh sang terapis.

Kongruensi konselor
Kondisi pertama yang dibutuhkan dan cukup bagi sang terapis adalah seorang terapis yang kongruensi. Kongruensi muncul ketika penghayatan organismik seseorang cocok dengan sesadaran akan pengalaman pengalaman tersebut, dan juga cocok untuk kemampuan dan kesediaan untuk mengekspresikan secara terbuka perasaan perasaa tersebut.
Terapis yang kongruensi juga tidak stasis. Seperti anyak orang pada umumnya. Mereka secara konstan terbuka kepada pengalaman.
Didalam kongruensi juga melibatkan 3 faktor yaitu :
1.      Perasaaan
2.      Kesadaran
3.      Ekspresi
Maka ketidak konguruensi dapat muncul dari ketiga titik yang membedakan :
Pertama, dia dapat muncul karena terputus hubungan antara perasaan dan kesadaran
Kedua, ketidak kongruensi adalah pertentangan antara kesadaran terhadapan pengalaman dan kemampuan.
Angagapan positif tanpa syarat
Anggapan positif adalah kebutuhan untuk menjadi disukai diterima, dan dihargai oleh orang lain. Jika kebutuhan ini dipenuhi tanpa persyaratan atau kualifikasi apapun maka anggapan positif tanpa syarat akan muncul.
Terapis memiliki anggapan positif tanpa syarat apabila mereka mengelami sikap positif, hangat, merasa dihargai dan  penerimaan.
Seorang terapis dengan anggapan tanpa syarat terhadap klien akan menunjukkan kehangatan yang tidak posesif dan penerimaan terhadap pribadi klien yang apa adanya, sebuah sikap yang boleh dibuat buat.
Anggapan positif tanpa syarat berarti trapis menerima dan menghargai klien tanpa ketentuan atau persyaratan apa pun, bahkan tidak mengindahkan perilaku pasien yang ekstrem selama sesi terapi berlangsung.
Meskipun anggapan postif tanpa syarat merupakan istilah yang agak menajubkan namun masing masing dari ketiga kata ini memiliki proporsi yang penting. “anggapan” beraarti memiliki hubungan yang dekat “positif” berarti perasaan hangat dan menerim apa adanya dan “syarat” anggapanpositif ini tidak lagi bergantung pada tindakan tertentu klien yang bergantung pada tindakan klien yang harus terus menerus diupayakannya.
Mendengarkan secara empati ..
isi ketiga yang di butuhkan dan cukup bagi pertumbuhan psikologis adalah mendengarkan secara empatik (empathic listening). Empati muncul saat terapis secara akurat merasakan perasaan perasaan klien dan sanggup mengkomunikasikan presepsi presepsi ini sehingga klien tahu bahwa orang lain sudah memasuki dunia perasaan mereka tanpa prasangka, proyeksi ataupun penghakiman. Bagi Rogers (1980, helm 142) empati berarti tinggal sementara waktu dalam kehidupan orang lain, menggerakkannya secara halus tanpa harus melakukan penghakiman.  Empati bukanlah interpretasi terhadap pengertian yang dimaknai pasien atau menyingkapkan perasaan perasan tak sadar mereka, karena prosedur prosedur ini mengandung kerangka acuan eksternal dan akan di rasakan sebagai sebuah ancaman oleh klien.
TAYANGAN TENTANG PANDANGAN HUMANISTIK (ROGERS)
Sinopsis: seorang pria yang berkeinginan menjadi wanita hingga mengubah bagian tubuhnya menjadi seorang wanita dengan suntik hormon, namun saat ini pria itu ingin kembali menjadi pria.
            Hal ini tentu tidak sesuai dengan dirinya karena keinginannya untuk menjadi wanita padahal dia adalah seorang pria, maka dalam video ini bersangkutan dengan teori tentang Incongruency (ketidaksesuain) menurut rogers yang tidak sehat.
Link: https://www.youtube.com/watch?v=qUWgAu3OUno

Kesimpulan
Kepribadian yang sehat menurut Allport
Kepribadian menurut Allport adalah pengorganisasian dinamis dalam diri individu dimana sistem psikofisiknya menentukan perilaku dan pikirannya. Allport percaya bahwa kesehatan psikologis adalah melihat kedepan, tidak melihat kebelakang.
Allport mengidentifikasikan enam kriteria bagi kepribadian yang sehat:
1.      Perluasan Konsep Diri à Kemampuan berpartisipasi dan menikmati dalam jangkauan yang luas
2.      Hubungan hangat dengan dirinya sendiri à Memiliki kemampuan untuk mencintai orang lain dengan cara yang intim dan penuh kasih
3.      Penerimaan Diri à Individu menerima diri mereka sendiri apa adanya dan mampu menghadapi rasa frustasi.
4.      Memiliki persepsi yang realistis tentang lingkungan sekitarnya à Mereka tidak hidup di dunia fantasi atau memaksakan realitas agar cocok dengan keinginannya
5.      Objektivitas Diri : Insight (kedalaman wawasan) dan humor à mengenal dirinya sehingga tidak perlu melimpahkan kesalahan dan kelemahan mereka kepada orang lain dan humor yang memberikan kemampuan untuk menertawakan diri sendiri daripada hanya mengandalkan tema-tema seksual atau agresivitas untuk memunculkan tawa dari orang lain.
6.      Filsafat Hidup à memiliki konsep yang jelas tentang tujuan hidup.
Kepribadian yang sehat menurut Rogers
Kepribadian menurut Rogers merupakan hasil interaksi yang terus menerus antara organisme, self dan medan fenomenal. Organisme adalah keseluruhan totalitas individu yang meliputi pemikiran, perilaku, dan keadaan fisik. Self adalah bagian yang terpenting. Self merupakan persepsi dan nilai-nilai individu tentang dirinya sendiri. Medan fenomenal merupakan keseluruhan pengalaman seseorang yang diterimanya baik disadari maupun yang tidak disadari.
1.      Teori Person-Centered
Dari semua teori, teori Person-Centered Rogers yang paling mendekati standar ini. Salah satu contoh konstruksi jika-maka adalah Jika kondisi tertentu hadir , maka suatu proses meski akan terjadi ; jika proses semacam ini muncul, maka hasil-hasil tertentu bisa kita prediksi.
2.      Ketidakkongruenan (incongruency)
Rongers (1959) percaya bahwa manusia menjadi rapuh (vulnerable) saat mereka tidak menyadari cacat antara diri organismic dan pengalaman mereka yang signifikan. Karena kurang menyadari ketidakkongruenan ini, pribadi yang rapuh sering kali bersikap dengan cara-cara yang tidak komprehensif bukan hanya terhadap orang lain tetapi juga terhadap dirinya sendiri.
3.      Kongruensi konselor
Didalam kongruensi juga melibatkan 3 faktor yaitu :
a.       Perasaaan
b.      Kesadaran
c.       Ekspresi

SUMBER: Diringkas dari buku Theories Of Personality (Jess Feist & Gregory J. Feist) Edisi Keenam.




Selasa, 15 Maret 2016

KESEHATAN MENTAL (Pertemuan Pertama)



KESEHATAN MENTAL
A.    DEFINISI KESEHATAN MENTAL
Menurut Pieper dan Uden (2006), kesehatan mental adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak mengalami perasaan bersalah terhadap dirinya sendiri, memiliki estimasi yang relistis terhadap dirinya sendiri dan dapat menerima kekurangan atau kelemahannya, kemampuan menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya, memiliki kepuasan dalam kehidupan sosialnya, serta memiliki kebahagiaan dalam hidupnya.
Notosoedirjo dan Latipun (2005), mengatakan bahwa terdapat banyak cara dalam mendefenisikan kesehatan mental (mental hygene) yaitu: (1) karena tidakmengalami gangguan mental, (2) tidak jatuh sakit akibat stessor, (3) sesuai dengan kapasitasnya dan selaras dengan lingkungannya, dan (4) tumbuh dan berkembang secara positif.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa Kesehatan mental adalah Suatu kondisi dimana kepribadian, emosional, intelektual dan fisik seseorang tersebut dapat berfungsi secara optimal, dapat beradaptasi terhadap tuntutan lingkungan dan stressor, menjalankan kapasitasnya selaras dengan lingkungannya, menguasai lingkungan, merasa nyaman dengan diri sendiri, menemukan penyesuaian diri yang baik terhadap tuntutan sosial dalam budayanya, terus menerus bertumbuh, berkembang dan matang dalam hidupnya, dapat menerima kekurangan atau kelemahannya, kemampuan menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya, memiliki kepuasan dalam kehidupan sosialnya, serta memiliki kebahagiaan dalam hidupnya.
B.     KONSEP SEHAT
1.      Dimensi Emosional
Menurut Goleman, emosional merupakan hasil campur dari rasa takut, gelisah, marah, sedih, senang. Orang yang sehat secara emosi dapat terlihat dari kesetabilan dan kemampuannya mengontrol dan mengekspresikan perasaan (marah, sedih atau senang) secara tidak berlebihan.
2.      Dimensi Intelektual
Kesehatan intelektual meliputi usaha untuk secara terus-menerus tumbuh dan belajar untuk beradaptasi secara efektif dengan perubahan baru. Bagaimana seseorang berfikir, wawasannya, pemahamannya, alasannya, logika dan pertimbangnnya. Dikatakan sehat  secara intelektual yaitu jika seseorang memiliki kecerdasan dalam kategori yang baik mampu melihat realitas. Memilki nalar yang baik dalam memecahkan masalah atau mengambil keputusan.
3.      Dimensi Fisik
Menurut dimensi fisik, seseorang dikatakan sehat secara fisiologis (fisik) bila terlihat normal,  tidak cacat, tidak mudah sakit, tidak kekurangan sesuatu apapun. Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.
4.      Dimensi Sosial
Kesehatan sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayan, status sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan menghargai. Sehat secara sosial dapat dikatakan mereka yang bisa berinteraksi dan berhubungan baik dengan sekitarnya mampu untuk bekerja sama. Tingkah laku manusia dalam kelompok sosial, keluarga, pernihakan, dan sesama lainnya, penerimaan norma sosial dan pengendalian tingkah laku.
5.      Dimensi Spiritual
Spiritual merupakan kehidupan kerohanian. Dengan menyerahkan diri dengan bersujud dengan kepercayaan agama masing-masing. Sementara orang yang sehat secara spiritual adalah mereka yang memiliki suatu kondisi ketenangan jiwa dengan id mereka. Secara rohani dianggap sehat karena pikirannya jernih tidak melakukan atau bertindak hal-hal yang diluar batas kewajaran sehingga bisa berpikir rasional. Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana  ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa.
C.    SEJARAH PERKEMBANGAN KESEHATAN MENTAL
Beratus-ratus tahun yang lalu orang menduga bahwa penyebab penyakit mental adalah syaitan-syaitan, roh-roh jahat dan dosa-dosa. Oleh karena itu para penderita penyakit mental dimasukkan dalam penjara-penjara di bawah tanah atau dihukum dan diikat erat-erat dengan rantai besi yang berat dan kuat. Namun, lambat laun ada usaha-usaha kemanusiaan yang mengadakan perbaikan dalam menanggulangi orang-orang yang terganggu mentalnya ini. Philippe Pinel di Perancis dan William Tuke dari Inggris adalah salah satu contoh orang yang berjasa dalam mengatasi dan menanggulangi orang-orang yang terkena penyakit mental. Masa-masa Pinel dan Tuke ini selanjutnya dikenal dengan masa pra ilmiah karena hanya usaha dan praksis yang mereka lakukan tanpa adanya teori-teori yang dikemukakan.
Masa selanjutnya adalah masa ilmiah, dimana tidak hanya praksis yang dilakukan tetapi berbagai teori mengenai kesehatan mental dikemukakan. Masa ini berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan alam di Eropa.
Dorothea Dix merupakan seorang pionir wanita dalam usaha-usaha kemanusiaan berasal dari Amerika. Ia berusaha menyembuhkan dan memelihara para penderita penyakit mental dan orang-orang gila. Sangat banyak jasanya dalam memperluas dan memperbaiki kondisi dari 32 rumah sakit jiwa di seluruh negara Amerika bahkan sampai ke Eropa. Atas jasa-jasa besarnya inilah Dix dapat disebut sebagai tokoh besar pada abad ke-19.
Tokoh lain yang banyak pula memberikan jasanya pada ranah kesehatan mental adalah Clifford Whittingham Beers (1876-1943). Beers pernah sakit mental dan dirawat selama dua tahun dalam beberapa rumah sakit jiwa. Ia mengalami sendiri betapa kejam dan kerasnya perlakuan serta cara penyembuhan atau pengobatan dalam asylum-asylum tersebut. Sering ia didera dengan pukulan-pukulan dan jotosan-jotosan, dan menerima hinaan-hinaan yang menyakitkan hati dari perawat-perawat yang kejam. Dan banyak lagi perlakuan-perlakuan kejam yang tidak berperi kemanusiaan dialaminya dalam rumah sakit jiwa tersebut. Setelah dirawat selama dua tahun, beruntung Beers bisa sembuh. Di dalam bukunya ”A Mind That Found Itself”, Beers tidak hanya melontarkan tuduhan-tuduhan terhadap tindakan-tindakan kejam dan tidak berperi kemanusiaan dalam asylum-asylum tadi, tapi juga menyarankan program-program perbaikan yang definitif pada cara pemeliharaan dan cara penyembuhannya. Pengalaman pribadinya itu meyakinkan Beers bahwa penyakit mental itu dapat dicegah dan pada banyak peristiwa dapat disembuhkan pula.
Beberapa zaman Kesehatan Mental di dunia
Zaman Prasejarah
Manusia purba sering mengalami gangguan mental atau fisik, seperti infeksi, artritis, dll.
Zaman peradaban awal
1. Phytagoras (orang yang pertama memberi penjelasan alamiah terhadap penyakit mental) 
2. Hypocrates (Ia berpendapat penyakit / gangguan otak adalah penyebab penyakit mental) 
3. Plato (gangguan mental sebagian gangguan moral, gangguan fisik dan sebagiaan lagi dari dewa dewa)
Zaman Renaissesus
Pada zaman ini di beberapa negara Eropa, para tokoh keagamaan, ilmu kedokteran dan filsafat mulai menyangkal anggapan bahwa pasien sakit mental tenggelam dalam dunia tahayul.
Era Pra Ilmiah
1. Kepercayaan Animisme
2. Kepercayaan Naturalisme
Era Modern
Perubahan luar biasa dalam sikap dan cara pengobatan gangguan mental terjadi pada saat berkembangnya psikologi abnormal dan psikiatri di Amerika pada tahun 1783. Ketika itu Benyamin Rush (1745-1813) menjadi anggota staf medis di rumah sakit Pensylvania. Di rumah sakit ini ada 24 pasien yang dianggap sebagai lunatics (orang gila atau sakit ingatan). Pada waktu itu sedikit sekali pengetahuan tentang penyebab dan cara menyembuhkan penyakit tersebut. Akibatnya pasien-pasien dikurung dalam ruang tertutup, dan mereka sekali-kali diguyur dengan air.
Rush melakukan suatu usaha yang sangat berguna untuk memahami orang-orang yang menderita gangguan mental tersebut melalui penulisan artikel-artikel. Secara berkesinambungan, Rush mengadakan pengobatan kepada pasien dengan memberikan dorongan (motivasi) untuk mau bekerja, rekreasi, dan mencari kesenangan. Pada tahun 1909, gerakan mental Hygiene secara formal mulai muncul. Perkembangan gerakan mental hygiene ini tidak lepas dari jasa Clifford Whitting Beers (1876-1943) bahkan karena jasanya itu ia dinobatkan sebagai The Founder of the Mental Hygiene Movement. Dia terkenal karena pengalamannya yang luas dalam bidang pencegahan dan pengobatan gangguan mental dengan cara yang sangat manusiawi. Secara hukum, gerakan mental hygiene ini mendapat pengakuan pada tanggal 3 Juli 1946, yaitu ketika presiden Amerika Serikat menandatangani The National Mental Health Act., yang berisi program jangka panjang yang diarahkan untuk meningkatkan kesehatan mental seluruh warga masyarakat.
Pada tahun 1950, organisasi mental hygiene terus bertambah, yaitu dengan berdirinya National Association for Mental Health. Gerakan mental hygiene ini terus berkembang sehingga pada tahun 1975 di Amerika terdapat lebih dari seribu perkumpulan kesehatan mental. Di belahan dunia lainnya, gerakan ini dikembangkan melalui The World Federation forMental Health dan The World Health Organization.
KESEHATAN MENTAL DALAM SEJARAH KEILMUAN ISLAM
1. Peradaban dan Perkembangan Keilmuan Islam
Setelah wafatnya Rasullullah SAW, pada hari senin 12 Rabi’ul Awal 11 H/ 8 Juni 632 M, Islam dengan cepat menyebar ke berbagai penduduk bumi. Hampir 100 tahun setelah Rasulullah meninggal, Islam telah tersebar dari anak Benua India, keseluruhan Jazirah Arab, dan sebagian Asia Selatan serta Eropa Timur. Pada Era ini, perkembangan segi keilmuan Islam, maupun disiplin ilmu-ilmu yang lain berkembang dengan pesat secara bersamaan. Hampir di dalam berbagai bidang keilmuan yang sekarang ada mulai dari fisika, kimia, matematika, astronomi, geografi,seni, sastra, kesehatan dan sebagainya, Islam memiliki tokoh-tokoh yang handal dalam bidangnya masing-masing. Salah satu ilmu yang menjadi kajian pokok pada masa itu ialah ilmu tentang jiwa5 (ilmu mental). Jiwa sebagai kajian pokok ilmu kesehatan mental dirasa amatlah penting keberadaannya karena semua perbuatan, sifat, serta tingkah laku merupakan refleksi keberadaan jiwa itu sendiri.
2. Tokoh Islam dalam Bidang Kesehatan Mental
Di dalam bidang kedokteran, maupun kesehatan mental sebagai salah satu disiplin ilmu yang menyertainya dan tidak dapat dipisahkan. Dunia Islam pada masa lampau maupun sekarang banyak menghasilkan tokoh-tokoh yang ahli dalam bidang ini, antara lain seperti Ibnu Sinna, Ibnu Thufayl, Ibnu Nafis, al-Ghaffiki, Bahjat Mustafa Efendi, Daud al-Antaki, dan sebagainya. Para tokoh tersebut merupakan tokoh yang terkemuka di dalam dunia kedokteran serta kesehatan mental. Akan tetapi, kajian tentang kesehatan mental telah jauh ada dan dicetuskan oleh seorang tokoh Islam bernama Zakariyya ar-Razi6 (251 Hsebelum datangnya era Ibnu Sinna sampai sekarang). Era ar-Razi merupakan era pengkodifikasian ilmu-ilmu medis, baik dari al-Qur’an dan al-Hadits maupun pengetahuan Timur dan Barat seperti India, Persia dan Yunani terus dilakukan dan dikembangkan dikota-kota besar Islam. Selain beliau orang pertama yang menemukan air raksa (Hg), sebelum Alexei Mikhailovitsy (1629-1676 M), beliau juga orang pertama yang menyatakan bahwa kondisi jasmani dari seseorang banyak terpengaruhi oleh kestabilan jiwa yang dimiliki orang tersebut. Kesetabilan jiwa yang dimiliki seseorang ditentukan oleh determinan lingkungannya. Oleh karena itu, untuk mempercepat proses penyembuhan seseorang pasien, maka haruslah dilakukan upaya-upaya dalam bentuk terapi fisik (seperti dengan pengenalan aroma terapi dan relaksasi), terapi non fisik (kaitannya dengan agama), serta pemilihan lingkungan yang tepat guna mendukung terjadinya proses penyembuhan. Pada perkembangan selanjutnya, pemikiran ar-Razi tentang kesehatan jasmani yang berakar pada kesehatan mental atau jiwa juga dikembangkan oleh tokoh-tokoh besar setelahnya seperti Ibn Sina, Ibn Thufayl dan al-Ghaffiki. Pada masa hidupnya, ar-Razi juga telah menghasilakan beberapa karyanya, yaitu seperti Ath-Thib al-Mansuri, the Comprehenssive Book, al-Kimya, al-Hawidan Qanun Fiqh Thibb.
D.    PENDEKATAN KESEHATAN MENTAL
A.    Pendekatan Orientasi Klasik
Sehat fisik artinya tidak ada keluhan fisik. Sedang sehat mental artinya tidak ada keluhan mental. Dalam ranah psikologi, pengertian sehat seperti ini banyak menimbulkan masalah ketika kita berurusan dengan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa yang gejalanya adalah kehilangan kontak dengan realitas. Orang-orang seperti itu tidak merasa ada keluhan dengan dirinya meski hilang kesadaran dan tak mampu mengurus dirinya secara layak. Pengertian sehat mental dari orientasi klasik kurang memadai untuk digunakan dalam konteks psikologi. Mengatasi kekurangan itu dikembangkan pengertian baru dari kata ‘sehat’. Sehat atau tidaknya seseorang secara mental belakangan ini lebih ditentukan oleh kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Orang yang memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya dapat digolongkan sehat mental. Sebaliknya orang yang tidak dapat menyesuaikan diri digolongkan sebagai tidak sehat mental. Kesehatan Mental : terhindarnya individu dari gejala gangguan jiwa(neurosis) dan gejala penyakit jiwa( psikosis), berupa simptom-simptom negatif yang menimbulkan rasa tidak sehat,dan bisa mengganggu efisiensi yang biasanya tidak bisa dikuasai individu. Kelemahan dari Orientasi ini adalah :
·         Simptom-simptom bisa terdapat juga pada individu normal
·         Rasa tidak nyaman dan konflik bisa membuat individu berkembang dan memperbaiki diri.
·         Sehat atau sakit tidak bisa didasarkan pada ada atau tidaknya keluhan.

A.    Pendekatan Orientasi Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri (Menninger,1947) : perubahan dalam diri yang diperlukan untuk mengadakan hubungan yang memuaskan dengan orang lain/lingkungan.
Individu bermasalah : apabila tidak mampu menyesuaikan diri terhadap tuntutan dari luar dirinya, dengan kondisi baru serta dalam mengisi peran yang baru.
Normal dalam Orientasi ini :
a) Normal secara statistik; yaitu apa adanya.
b) Normal secara normatif : individu bertingkah laku sesuai budaya setempat.
Dengan menggunakan orientasi penyesuaian diri, pengertian sehat mental tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan tempat individu hidup. Oleh karena kaitannya dengan standar norma lingkungan terutama norma sosial dan budaya, kita tidak dapat menentukan sehat atau tidaknya mental seseorang dari kondisi kejiwaannya semata. Ukuran sehat mental didasarkan juga pada hubungan antara individu dengan lingkungannya. Seseorang yang dalam masyarakat tertentu digolongkan tidak sehat atau sakit mental bisa jadi dianggap sangat sehat mental dalam masyarakat lain. Artinya batasan sehat atau sakit mental bukan sesuatu yang absolut. Berkaitan dengan relativitas batasan sehat mental, ada gejala lain yang juga perlu dipertimbangkan. Kita sering melihat seseorang yang menampilkan perilaku yang diterima oleh lingkungan pada satu waktu dan menampilkan perilaku yang bertentangan dengan norma lingkungan di waktu lain.
B.     Pendekatan Orientasi Pengembangan Potensi
Kesehatan mental : pengetahuan dan perbuatan yang tujuannya untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi dan bakat yang ada semaksimal mungkin sehingga membawa pada kebahagian diri dan orang lain serta terhindar dari gangguan penyakit jiwa . Tokohnya : Allport , Maslow , Roger Fromm
Kriteria mental sehat dalam orientasi ini :
1. Punya pedoman normatif pribadi ( bisa memilih apa yang baik dan menolak yang buruk)
2. Menunjukan otonomi independen , mawas diri dalam mencari nilai-nilai pedoman.
Seseorang dikatakan mencapai taraf kesehatan jiwa, bila ia mendapat  kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan, ia bisa dihargai oleh orang lain dan dirinya sendiri. Dalam psiko-terapi (Perawatan Jiwa) ternyata yang menjadi pengendali utama dalam setiap tindakan dan perbuatan seseorang bukanlah akal pikiran semata-mata, akan tetapi yang lebih penting dan kadang-kadang sangat menentukan adalah perasaan. Telah terbukti bahwa tidak selamanya perasaan tunduk kepada pikiran, bahkan sering terjadi sebaliknya, pikiran tunduk kepada perasaan. Dapat dikatakan bahwa keharmonisan antara pikiran dan perasaanlah yang membuat tindakan seseorang tampak matang dan wajar.
SUMBER