Selasa, 28 Juni 2016

Cinta dan Perkawinan

CINTA DAN PERKAWINAN

 
Nama Anggota:
Ø  Brenda Amelia Panggabean
Ø  Deanysa Buggy Asih
Ø  Diah Ayu Romadhoni
Ø  Diena Islamiati Hanifah
Ø  Elfa InkabaturiaCiptanti
Ø  Eva Rosalina Christy
Ø  Farah Fuzyah Putri
Ø  Juliana Agnes
Ø  Karlina Septiyani
Ø  Khansa Larissa Desideria
Ø  Melysa
Kelas: 2PA18
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA




CINTA DAN PERKAWINAN
CINTA
Cinta, boleh jadi merupakan suatu istilah yang sulit untuk dibatasi secara jelas. Kendatipun demikian, sulit juga untuk diingkari bahwa cinta adalah salah satu kebutuhan hidup manusia yang cukup fundamental. Begitu fundamentalnya sampai-sampai membawa Victor Hago, seorang pujangga terkenal, kepada satu kesimpulan: bahwa mati tanpa cinta sama halnya dengan mati penuh dengan dosa. Secara sederhana cinta bisa dikatakan sebagai paduan rasa simpati antara dua makhluk. Rasa simpati ini tidak hanya berkembang di antara pria dan wanita, akan tetapi bisa juga diantara pria dengan pria atau wanita dengan wanita.

Cinta dan Perkawinan Menurut Plato 
         Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan... tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya.
Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia2lah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.

A. BAGAIMANA MEMILIH PASANGAN
       Memilih pasangan hidup merupakan sesuatu hal yang sangat penting hukumnya atau (wajib). Salah satunya pasangan hidup merupakan tujuan utama dalam hidup ini, karna menurut agama kenapa Allah menciptakan Perempuan dan Laki-laki. agar mereka bisa hidup berpasang-pasangan.
1. Pilihlah karena Agamanya.
2. kenali dengan cara menanyakan kepada orang yang paling dekat dengannya dan dapat kita percaya.
3. letakkan niat pada tempat yang benar, karena segala perbuatan membutuhkan dan sangat dipengaruhi niat.
4. Shalat istikharah untuk mohon petunjuk kepada ALLAH juga patut dilakukan..
5. Apabila semua ini telah dilakukan, maka pasrahkan diri kepada ALLAH Subhanahu Wata'ala akan keputusan-NYA, jangan keluh kesah, karena itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah.
6. Dan terakhir, jangan bosan untuk berbekal ilmu pernikahan , karena berbekal ilmu adalah lebih baik daripada tidak membekali diri pada saat masuk ke dunia yang baru.

B. Hubungan dalam perkawinan
Keluarga dapat terbentuk berdasarkan perkawinan. Pengertian perkawinan itu sendiri merupakan suatu pola social yang dimana dua orang atau lebih untuk membentuk sebuah keluarga. Memang tidak semua keluarga harus diikat oleh ikatan perkawinan, misalnya saja kasus kumpul kebo yang merupakan incest taboo (hal yang menimpang atau dianggap tabu). Namun hal ini dapat mengakibatkan disfungsi pada keluarga itu sendiri.
Banyak pola-pola hubungan antara perkawinan dan keluarga, diantaranya:
Pertama, seperti yang sudah dijelaskan diatas tadi, yaitu pola hubungan keluarga yang tidak didasari dengan perkawinan atau illegal (kumpul kebo). Proses sosialisasi ke masyarakat untuk keluarga seperti ini cukup sulit. Karena pola hubungan keluarga dan perkawinan seperti ini dianggap buruk oleh masyarakat. Fungsi-fungsi dan peran masing-masing anggota keluargapun sulit unutk dilaksanakan akibat banyaknya tekanan-tekanan dari masyarakat sekitar keluarga itu tinggal.
Kedua, pola hubungan perkawinan dan keluarga didasari dengan perkawinan yang sah dan legal. Hampir seluruh warga di Indonesia merupakan bagian dari pola hubungan keluarga dan perkawinan seperti ini. Sehingga proses sosialisasi untuk keluarga seperti ini dapat berjalan dengan lancar dan baik. Keluarga dengan tipe seperti inipun bisa dikatakan keluarga yang baik sebab dengan sah dan legalnya sebuah keluarga, maka proses sosialasasi dan penerapan fungsi serta peran-peran dalam masyarakat dapat berjalan dengan baik.
Terakhir, pola hubungan perkawinan dan keluarga berdasarkan hubungan sedarah atau satu keturunan. Menurut agama islam, hal ini sangat dilarang karena menikah dengan orang yang memiliki hubungan sedarah berarti menikah dengan seseorang sepersusuan. Menurut ilmu kedokteran, menikah dengan saudara sedarahpun juga dilarang sebab, jika seseorang menikah dengan orang yang sedarah otomatis atauk keturunan yang dihasilkan merupakan hasil prcampuran kedua darah yang sama. Percampuran kedua darah yang sama ini dapat mengakibatkan pengumpalan-penggumpalan dalam tubuh anak itu yang menyebabkan cacatnya organ atau mental si anak.
Hal seperti ini masih banyak terjadi pada masyarakat terpencil yang belum mengerti bahaya menikah dengan seseorang yang masih ada hubungan darah. Sehingga ada beberapa komunitas atau kampung yang penduduknya memiliki kelainan jiwa atau cacat. Hal ini disebabkan karena adat yang memaksa. Jika mereka tidak mengikuti adat, maka mereka akan dikeluarkan dari komunitas tersebut.
Pola-pola hubungan perkawinan seperti diatas merupakan hal yang masih sering terjadi dimasyarakat dunia khusnya di Indonesia sendiri. Banyak kasus-kasus tentang kumpul kebo atau nikah sirih yang mulai terungkap belakangan ini. Untuk pola keluarga yang tidak dilandasi perkawinan dapat kita jumpai di Negara-negara barat.
Beraneka ragamnya pola hubungan antara keluarga dan perkawinan menandakan bahwa masyarakat zaman sekarang sudah mulai mengalami perubahan social. Dahulu ketika perkawinan masih dianggap sacral, tidak ada yang namanya seseorang melakukan kumpul kebo atau hal menyimpang lainnya. Namun seriring perkembangan zaman, semuanya telah berubah. Perkawinan dan sebuah keluarga merupakan suatu hal yang di anggap sebagai hal yang tidak sacral lagi.

C. Penyesuaian dalam perkawinan
Aspek-aspek Penyesuaian Diri
Pada dasarnya penyesuaian diri memiliki dua aspek yaitu: penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial. Untuk lebih jelasnya kedua aspek tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
1. Penyesuaian Pribadi
Penyesuaian pribadi adalah kemampuan individu untuk menerima dirinya sendiri sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Ia menyadari sepenuhnya siapa dirinya sebenarnya, apa kelebihan dan kekurangannya dan mampu bertindak obyektif sesuai dengan kondisi dirinya tersebut.
2. Penyesuaian Sosial
Setiap iindividu hidup di dalam masyarakat. Di dalam masyarakat tersebut terdapat proses saling  mempengaruhi satu sama lain silih berganti. Dari proses tersebut timbul suatu pola kebudayaan dan tingkah laku sesuai dengan sejumlah aturan, hukum, adat dan nilai-nilai yang mereka patuhi, demi untuk mencapai penyelesaian bagi persoalan-persoalan hidup sehari-hari.  Dalam bidang ilmu psikologi sosial, proses ini dikenal dengan proses penyesuaian sosial. Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan berinteraksi dengan orang lain. Hubungan-hubungan tersebut mencakup hubungan dengan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, keluarga, sekolah, teman atau masyarakat luas secara umum.
Perkawinan tidak berarti mengikat pasangan sepenuhnya. Dua individu ini harus dapat mengembangkan diri untuk kemajuan bersama. Keberhasilan dalam perkawinan tidak diukur dari ketergantungan pasangan. Perkawinan merupakan salah satu tahapan dalam hidup yang pasti diwarnai oleh perubahan. Dan perubahan yang terjadi dalam sebuah perkawinan, sering tak sederhana. Perubahan yang terjadi dalam perkawinan banyak terkait dengan terbentuknya relasi baru sebagai satu kesatuan serta terbentuknya hubungan antarkeluarga kedua pihak.
Relasi yang diharapkan dalam sebuah perkawinan tentu saja relasi yang erat dan hangat. Tapi karena adanya perbedaan kebiasaan atau persepsi antara suami-istri, selalu ada hal-hal yang dapat menimbulkan konflik. Dalam kondisi perkawinan seperti ini, tentu sulit mendapatkan sebuah keluarga yang harmonis.
Pada dasarnya, diperlukan penyesuaian diri dalam sebuah perkawinan, yang mencakup perubahan diri sendiri dan perubahan lingkungan. Bila hanya mengharap pihak pasangan yang berubah, berarti kita belum melakukan penyesuaian.
D. Perceraian dan pernikahan kembali
Dalam perjalanannya, pernikahan justru banyak menemui masalah. Menikah Kembali setelah perceraian mungkin menjadi keputusan yang membingungkan untuk diambil. Karena orang akan mencoba untuk menghindari semua kesalahan yang terjadi dalam perkawinan sebelumnya dan mereka tidak yakin mereka bisa memperbaiki masalah yang dialami. Mereka biasanya kurang percaya dalam diri mereka untuk memimpin pernikahan yang berhasil karena kegagalan lama menghantui mereka dan membuat mereka ragu-ragu untuk mengambil keputusan.
Ada banyak faktor yang mempengaruhi peluang untuk menikah setelah bercerai: Misalnya seorang wanita muda pun bisa memiliki kesempatan kurang dari menikah lagi jika dia memiliki beberapa anak. Ada banyak faktor seperti faktor pendidikan, pendapatan dan sosial.
Sebagai manusia, kita memang mempunyai daya tarik atau daya ketertarikan yang tinggi terhadap hal-hal yang baru. Jadi, semua hal yang telah kita miliki dan nikmati untuk suatu periode tertentu akan kehilangan daya tariknya. Misalnya, Anda mencintai pria yang sekarang menjadi pasangan karena kegantengan, kelembutan dan tanggung jawabnya. Lama-kelamaan, semua itu berubah menjadi sesuatu yang biasa. Itu adalah kodrat manusia. Sesuatu yang baru cenderung mempunyai daya tarik yang lebih kuat dan kalau sudah terbiasa daya tarik itu akan mulai menghilang pula. Ada kalanya, hal-hal yang sama, yang terus-menerus kita lakukan akan membuat jenuh dalam pernikahan.
Esensi dalam pernikahan adalah menyatukan dua manusia yang berbeda latar belakang. Untuk itu kesamaan pandangan dalam kehidupan lebih penting untuk diusahakan bersama.
Jika ingin sukses dalam pernikahan baru, perlu menyadari tentang beberapa hal tertentu, jangan biarkan kegagalan masa lalu mengecilkan hati. Menikah Kembali setelah perceraian bisa menjadi pengalaman menarik. tinggalkan masa lalu dan berharap untuk masa depan yang lebih baik.
E. Alternatif selain pernikahan
Ada banyak alasan untuk tetap melajang. Perkembangan jaman, perubahan gaya hidup, kesibukan pekerjaan yang menyita waktu, belum bertemu dengan pujaan hati yang cocok, biaya hidup yang tinggi, perceraian yang kian marak, dan berbagai alasan lainnya membuat seorang memilih untuk tetap hidup melajang. Batasan usia untuk menikah kini semakin bergeser, apalagi tingkat pendidikan dan kesibukan meniti karir juga ikut berperan dalam memperpanjang batasan usia seorang untuk menikah. Keputusan untuk melajang bukan lagi terpaksa, tetapi merupakan sebuah pilihan. Itulah sebabnya, banyak pria dan perempuan yang memilih untuk tetap hidup melajang.
Persepsi masyarakat terhadap orang yang melajang, seiring dengan perkembangan jaman, juga berubah. Seringkali kita melihat seorang yang masih hidup melajang, mempunyai wajah dan penampilan di atas rata-rata dan supel. Baik pelajang pria maupun wanita, mereka pun pandai bergaul, memiliki posisi pekerjaan yang cukup menjanjikan, tingkat pendidikan yang baik.
Banyak perusahaan lebih memilih karyawan yang masih berstatus lajang untuk mengisi posisi tertentu. Pertimbangannya, para pelajang lebih dapat berkonsentrasi terhadap pekerjaan. Hal ini juga menjadi alasan seorang tetap hidup melajang.
Kemapanan dan kondisi ekonomi pun menjadi alasan tetap melajang. Pria sering kali merasa kurang percaya diri jika belum memiliki kendaraan atau rumah pribadi. Sementara, perempuan lajang merasa senang jika sebelum menikah bisa hidup mandiri dan memiliki karir bagus. Mereka bangga memiliki sesuatu yang dihasilkan dari hasil keringat sendiri. Selain itu, ada kepuasaan tersendiri.
Banyak yang mengatakan seorang masih melajang karena terlalu banyak memilih atau ingin mendapat pasangan yang sempurna sehingga sulit mendapatkan jodoh. Pernikahan adalah untuk seumur hidup. Rasanya tidak mungkin menghabiskan masa hidup kita dengan seorang yang tidak kita cintai. Lebih baik terlambat menikah daripada menikah akhirnya berakhir dengan perceraian.
Tidak dapat dipungkuri, sebenarnya lajang juga mempunyai keinginan untuk menikah, memiliki pasangan untuk berbagi dalam suka dan duka. Apalagi melihat teman yang seumuran yang telah memiliki sepasang anak yang lucu dan menggemaskan. Bisa jadi, mereka belum menemukan pasangan atau jodoh yang cocok di hati. Itulah alasan mereka untuk tetap menjalani hidup sebagai lajang.
Melajang adalah sebuah sebuah pilihan dan bukan terpaksa, selama pelajang menikmati hidupnya. Pelajang akan mengakhiri masa lajangnya dengan senang hati jika telah menemukan seorang yang telah cocok di hati.
Kehidupan melajang bukanlah sebuah hal yang perlu ditakuti. Bukan pula sebuah pemberontakan terhadap sebuah ikatan pernikahan. Hanya, mereka belum ketemu jodoh yang cocok untuk berbagi dalam suka dan duka serta menghabiskan waktu bersama di hari tua.
Link Video:
sinopsis: dalam film animasi pendek tersebut diceritakan bagaimana awa dari dua insan bertemu hingga timbul rasa cinta, kemudian keduanya saling mencari tau pribadi diri masing-masing atau melakukan pendekatan. Setelah itu mereka memutuskan untuk menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Tak lama kemudian mereka mengambil keputusan untuk berkomitmen dan melakukan pernikahan.

Sumber:
Widagdho, djoko. 1991. Ilmu budaya dasar. Semarang: Bumi Aksara Jakarta
http://mhdjunaidi27.blogspot.co.id/2015/05/materi-minggu-ke-10-cinta-dan-perkawinan.html

http://staff.ui.ac.id/system/files/users/liche/material/psikologiperkawinan-liche.pdf

Senin, 25 April 2016

PANDANGAN HUMANISTIK (ALLPORT & ROGERS)

PANDANGAN HUMANISTIK
(Gordon Willard Allport & Carl Rogers)
 
Nama Anggota:
Ø  Brenda Amelia Panggabean
Ø  Deanysa Buggy Asih
Ø  Diah Ayu Romadhoni
Ø  Diena Islamiati Hanifah
Ø  Elfa InkabaturiaCiptanti
Ø  Eva Rosalina Christy
Ø  Farah Fuzyah Putri
Ø  Juliana Agnes
Ø  Karlina Septiyani
Ø  Khansa Larissa Desideria
Ø  Melysa
Kelas: 2PA18
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA


ALLPORT
Kepribadian menurut Allport adalah pengorganisasian dinamis dalam diri individu dimana sistem psikofisiknya menentukan perilaku dan pikirannya.
Ciri pribadi yang sehat menurut Alport :
     Pertama, pribadi yang sehat secara psikologis dicirikan oleh sikap proaktif, yaitu tidak hanya bereaksi seacara eksternal, tetapi juga sanggup bertindak dengan sadar terhadap lingkungannya dengan cara-cara baru dan inovatif, sehingga lingkungan pun bereaksi kepada mereka juga.
     Kedua, kepribadian yang sehat lebih termotivasikan oleh proses-proses sadar ketimbang pribadi yang terdistorsi, menjadikan mereka lebih fleksibel dan mandiri ketimbang pribadi sehat yang masih terus didominasi oleh motif-motif bawah sadar yang muncul dari pengalaman masa kanak-kanak.
Allport mengidentifikasikan enam kriteria bagi kepribadian yang sehat:
     Pertama, adalah perluasan konsep diri. Pribadi yang sehat terus berusaha mengidentifikasikan dan berparisipasi dalam peristiwa-peristiwa di luar diri mereka. Mereka tidak berpusat pada diri mereka sendiri, melainkan sanggup menyelami masalah dan aktivitas-aktivitas di luar dirinya.
     Kedua, pribadi yang sehat dicirikan oleh “hubungan hangat dirinya dengan orang lain”. Mereka memiliki kemampuan untuk mencintai orang lain dengan cara yang intim dan penuh kasih. Individu yang sehat secara psikologis memperlakukan orang lain dengan penuh penghargaan dan mereka menyadari bahwa kebutuhan, hasrat, dan harapan orang lain tidaklah berbeda dari yang mereka miliki.
     Ketiga, adalah rasa aman emosional dan penerimaan diri. Individu yang sehat menerima diri apa adanya dan memiliki apa yang disebut Allport muatan emotif. Pribadi yang sehat psikologisnya tidak begitu jengkel jika terdapat hal-hal yang tidak berjalan seperti yang direncanakan atau ketika mereka mengalami hal buruk. Demikian juga mereka senantiasa tidak merasa terluka karena sadar bahwa rasa frustasi dan tidak nyaman adalah bagian dari hidup itu sendiri.
     Keempat, pribadi yang sehat secara psikologis memiliki persepsi yang realistis tentang lingkungan sekitarnya. Mereka tidak hidup di dunia fantasia tau memaksakan realitas agar cocok dengan keinginannya. Mereka lebih berorientasi pada masalah daripada rasa egoismenya.
     Kelima, adalah insight (kedalaman wawasan) dan humor. Pribadi sehat mengenal dirinya sehingga tidak perlu melimpahkan kesalahan dan kelemahan mereka kepada orang lain. Mereka juga memiliki rasa humor yang tidak sinis, yang memberikan kemampuan untuk menertawakan diri sendiri daripada hanya mengandalkan tema-tema seksual atau agresivitas untuk memunculkan tawa dari orang lain.
     Keenam, adalah memiliki filsafat hidup yang menyatukan. Pribadi yang sehat memiliki konsep yang jelas tentang tujuan hidup. Tanpa ini, wawasan mereka akan terasa seperti kosong dan tandus, dan humor mereka akan merosot menajdi sinis dan picisan. Filsafat hidup yang menyatukan bisa berupa konsep agama. Pribadi dengan sikap religious yang sehat dan filsafah hidup yang menyatukan memiliki suara hati yang berkembang dengan baik dan memiliki hasrat kuat untuk melayani orang lain.
TAYANGAN TENTANG PANDANGAN HUMANISTIK (ALLPORT)
Kisah ini menceritakan seorang bapak asal Bali bernama Ketut Sweda pengusaha furniture sukses  yang sejak kecil sudah dipisahkan oleh kedua saudaranya dan tidak dapat melanjutkan pendidikannya karena hidup dalam kemiskinan. Selama 4 tahun ketut tinggal bersama saudara dari kakeknya, lalu ketut diajak oleh kakeknya ke denpasar lalu ia dipertemukan oleh saudara kandungnya. Kemudian ketutpun di angkat oleh bapak Osia sehingga akhirnya ia dapat berkumpul bersama kedua saudaranya, sejak saat itu ketutpun diajari bagaimana membuat furniture hingga dapat mengekspor barangnya.
Link video: https://www.youtube.com/watch?v=BvKrj6NbNbw
ROGERS
Teori Person-Centered
Meskipun konsep kemanusian Rogers pada dasarnya tidak berubah sejak awal 1940-an sampai meninggal pada 1987,Tetapi teorinya sudah mengalami beberapa prubahan nama. Selama tahun awal pendekatanya disebut “non-direktif” istilah yang tidak begitu keren yang terus di asosiasikan dengan namanya untuk waktu yang cukup lama. Kemudian nama mulai di ganti menjadi “clicnt-centered”,”person-centered”,dan “ person to person”. Dari semua teori ,teori person-centered Rogers yang paling mendekati standar ini. Salah satu contoh konstruksi jika-maka adalah Jika kondisi tertentu hadir , maka suatu proses meski akan terjadi ; jika proses semamca ini muncul,maka hasil-hasil tertentu bisa kita prediksi .Contoh yang lebih spesifik dapat ditemkan dalam terapi : Jika terapis kongruen dan mampu mengomunikasikan anggapan positif tanpa syarat dan empati yag akurat kepada klien,maka perubahan dalam terapi akan terjadi,jika prubahan dalam terapi terjadi,maka klien akan mengalami penerimaan dari lebih besarmpercaya diri lebih besar dan seterusnya. ( Kita akan mendiskusikan kongruensi anggapan positif tanpa-syarat,dan empati akurat lebih lengakap di bagian Psikoterapi ) .
Asumsi-Asumsi Dasar
Asumsi dasar teori Person-centered Rogers merumuskan dua Asumsi besar kecenderungan formatif dan kecenderungan mengaktualisasi .
Kecenderungan Formatif
Rogers menyebut proses ini kecenderungan formatif (formatif tendency) dan mengambil banyak contoh dari alam .Contohnya galaksi bintang-bintang yang kompleks terbentuk dari massa yang awalnya kurang begitu terorganisasikan ;kristal-kristal seperti butiran salju muncul dari uap yang tidak berbentuk ; organisme yang kompleks berkembang dari satu sel tunggal; dan kesadaran manusia berkembang dari awal bawah sadar primitif menjadi alam sadar yang sangat terorganisasikan .
Kecenderungan-Mengaktualisasi
Kebutuhan ini mencakup kebutuhan-kebutuhan dasar seperti makanan dan rasa aman,namun kebutuhan itu juga mencakup kecenderungan untuk melawan perubahan. Meskipun manusia memiliki hasrat kuat untuk memelihara status quo namun, mereka bersedia untuk belajar dan berubah. Kebutuhan ini menjadi lebih besar,berkembang dan mencapai pertumbuhan optimal yang disebut Rogers Perkembangan,kebutuhan untuk belajar hal-hal yang tidak segera mendapatkan penghargaan .Kebutuhan perkembangan ini terekspresikan dalam beragam bentuk ,seperti rasa ingin tau,kesukaan bermain eksploras diri persahabatan dan keyakinan bahwa seseorang dapat mencapai pertumbuhan psikologis. Pribadi miliki dalam dirinya daya kreatif untuk memecahkan maslah,mengubah konsep diri mereka,dan menjadi semakin terarah-pada-diri-sendiri ( self-directed). Individu-individu realitas,dan mereka tahu realitas tertentu kebih baik dari realitas lain.
Ketidakkongruenan (incongruency)
Organisme dan diri merupakan dua entitas terpisah yang dapat kongruen satu sama lain atau tidak. Kecenderungan- mengaktualisasi mengacu pada kecenderungan organisme untuk bergerak menuju pemenuhan, sedangkan aktualisasi-diri adalah hasrat untuk mencapai pemenuhan diri yang dipahami. Dua kecenderungan ini terkadang juga bisa bergantian posisi satu sama lai.
Ketidakseimbangan psikologis dimulai saat kita gagal untuk menyadari pengalaman-pengalaman keorganisme-an kita sebagai pengalaman diri : jika kita tidak menyimbolkan secara akurat pengalaman penghayatan organsmik tersebut menjadi kesadaran karena mereka akan tampak tidak konsisten dengan konsep-diri kita. Ketidakkongruenan antara konsep-diri dan penghayatan organismic adalah sumber gangguan psikolgis.
Kerapuhan. Rongers (1959) percaya bahwa manusia menjadi rapuh (vulnerable) saat mereka tidak menyadari cacat antara diri organismic dan pengalaman mereka yang signifikan. Karena kurang menyadari ketidakkongruenan ini, pribadi yang rapuh sering kali bersikap dengan cara-cara yang tidak komprehensif bukan hanya terhadap orang lain tetapi juga terhadap dirinya sendiri.
Kecemasan dan Ancaman. Rongers (1959, hlm, 204) mendefinisikan kecemasan sebagai “kondisi tidak nyaman atau ketegangan yang penyababnya tidak diketahui”. Kecemasan dan ancaman dapat dorong kita melangkah maju menuju kesehatan psikologis karena memberi sinyal pada kita bahwa penghayatan organismic sudah tidak lagi konsisten dengan konsep-diri kita. Namun begitu, keduanya bukan perasaan yang menyenangkan atau nyaman.
Pertahanan Diri
Kita memahami pengalaman dalam kesadaran namun gagal memahami makna yang sesungguhnya.Sementara penyangkalan (denial)  adalah penolakan untuk memahami pengalaman dalam kesadaran kita, atau minimal menjauhkan beberapa aspeknya mencapai simbiolis. Menurut Rogers (1959) baik distorsi maupun penyangkalan melayani tujuan yang sama- mereka mempertahankan presepsi kita tentang penghayatan organismik yang konsisten dengan konsep diri, mengizinkan kita mengabaikan atau menghalangi pengalaman yang dapat menyebabkan rasa cemas atau ancaman yang tidak menyenangkan.
Disorganisasi (Disorganization)
Kebanyakn orang terlibat dalam prilaku defensif namun kadang-kadang pertahanan diri ini gagal dan perilaku pun menjadi tidak lagi terorganisasikan, atau psikotik. Tetapi kenapa pertahanan diri bisa gagal?
Untuk menjawabnya,kita harus melacaknya dari prilaku tidak terorganisasikan yang memiliki asal usul sama dengan prilaku defensif normal, yaitu ketidakkongruenan penghayatan organismik dan konsep diri. Disorganisasi dapat muncul tiba-tiba, atau ber-lama. Ironisnya banyak priubadi rapuh terhadap disorganisasi prilaku ini selama terapi.Dalam kondisi disorganisasi ini, orang kadang bersikap konsisten dengan penghayatan organismik mereka dan kadang bersesuaian dengan konsep diri yang mereka lindungi.Contoh kasus adalah seorang perempuan yang awalnya sopan dan dapat mengendalikan diri dengan tepat,tiba-tiba mulai menggunakan kosakata yang jelas-jelas bernada seks dan kasar.
 Psikoterapi
Terapi client – centered mudah di ucapkan namun sulit di praktikkan.Singkatnya, pendekatan client-centered ingin agar pribadi yang rapuh atau cemas dapat tumbuh sehat secara psikologis, tetapi mereka harus menjalin kontak dengan terapis yang kongruen dan yang memahami terapis sebagai penyedia atmosfer penerimaan tanpa syarat dan empati akurat.
Proses Tahap – Tahap Perubahan Terapi
Jika kondisi kongruensi terapis, anggapan positif tanpa syarat dan mendengarkan secara empatik sudah muncul, maka proses perubahan terapis siap dilakukan.
Proses perubahan kepribadian yang konstruktif dapat diletakkan dalam sebuah kontinum dari sikap yang paling defensif sampai yang paling terintegrasi. Rogers (1961) membagi kontinum ini menjadi tujuh tahap :
1.      Tahap 1 à Dicirikan oleh ketidakrelaan klien untuk mengomunikasikan apapun tentang dirinya. Pribadi di tahapan ini biasanya tidak mencari bantuan namun, jika untuk beberapa alas an mereka datang ke terapi, biasanya mereka sangat rigid dan resisten terhadap perubahan. Mereka tidak mengakui adanya masalah yang menimpanya dan menolak untuk mengungkapkan perasaan atau emosinya.
2.      Tahap 2  à Klien menjadi agak kurang ketat. Mereka mulai membahas peristiwa – peristiwa eksternal dan orang lain, tetapi masih tidak mengakui atau gagal memahami perasaan – perasaan mereka sendiri. Namun mereka sudah mulai dapat membahas tentang perasaan – perasaan pribadi seolah-olah perasaan itu fenomena objektif.
3.      Tahap 3  à Klien menjadi lebih bebas untuk membicarakan diri mereka, meskipun masih sebagai objek. Klien membicarakan perasaan dan emosinya dengan menggunakan model kalimat past tense atau future tense, menghindari pembicaraan perasaan dan emosinya saat ini.
4.      Tahap 4 à Klien mulai membicarakan perasaan lebih dalam namun tidak satupun mengenai yang dirasakan sekarang. Saat klien mengekspresikan perasaan – perasaan saat ini, mereka biasanya terkejut dengan ungkapan ini. Mereka mungkin menyangkal atau mendistorsi pengalaman – pengalaman, meskipun memiliki juga beberapa kesadaran samar – samar bahwa mereka sanggup merasakan emosi di masa kini. Mereka menerima lebih banyak kebebasan dan tanggung jawab dari yang sudah mereka lakukan di tahap 3 dan mulai mengizinkan secara tentatif untuk terlibat dalam hubungan dengan terapis.

5.      Tahap 5 à Klien sudah mulai menjalani perubahan dan pertumbuhan yang signifikan. Merka dapat mengekspresikan perasaan – perasaan saat ini. Mereka mulai mengandalkan lokus internal evaluasi bagi perasaan mereka dan melakukan penemuan yang segar dan baru tentang diri mereka sendiri. Mereka juga mengalami pembedaan lebih besar perasaan – peraan dan mengembangkan apresiasi yang lebih besar bagi nuansa – nuansa diantara mereka. Selain itu, mereka mulai membuat keputusan – keputusan mereka sendiri dan menerima tanggung jawab bagi pilihan – pilihan mereka.

6.      Tahap 6 à Klien mengalami pertumbuhan dramatis dan pergerakan yang tidak dapat dibalikkan lagi, menjadi berfungsi atau mengaktualisasikan diri sepenuhnya. Mereka mengizinkan pengalaman – pengalaman yang sebelumnya disangkal atau didistorsi masuk ke dalam kesadaran yang bebas. Mereka mulai memiliki rasa perhatian dan sayang yang sejati bagi diri baru yang sudah terbentuk saat ini. Klien dapat mengalami seluruh diri-organismik mereka, seperti mengendurnya urat saraf, mengalirnya air mata, perbaikan sirkulasi darah, dan kehilangan simtim – simtom fisik.

7.      Tahap 7 à dapat terjadi diluar pertemuan terapi kerena pertumbuhan di tahap 6 sudah tidak bisa dibalikkan lagi. Mereka sanggup menggeneralisasikan pengalaman – pengalaman terapi ke dunia luar terapi. Mereka mengalami keyakinan untuk menjadi diri sendiri di semua waktu, untuk memiliki, dan merasakan secara mendalam totalitas penglaman mereka, dan untuk menghidupkan pengalaman – pengalaman termasuk di masa kini.

Kondisi kondisi
Rogers (1959) merumuskan bahwa agar pertumbuhan terapi bisa terjadi, kondisi kondisi tersebut harus cukup.
Pertama, seorang klien yang cemas atau rapuh harus menjalanin kontak terapi pada yang memiliki empati dan tanggapan yang positif
Kedua, klien harus mengetahui bahwa ciri ini dimiliki oleh calon terapi
Ketiga, kontak antara terapi dan klien harus terjadi berdurasi
Signitifikasi hipotesis rogers ini sangat revolusionar. Dihampir setiap terapi dari yang pertama sampai yang ketiga klien dan pasien termotivasi oleh sejumlah tegangan saat mencari pertolongan dan hubungan antara klien dan terapi berlangsung dalam periode tertentu.
Meskipun ketiga kondisi ini dibutuhkan secara psikologis Rogers yakin bahwa kongruensi lebih mendasar ketimbangan anggapan positif tanpa syarat atau mendengarkan secara empatik.
Kongruensi adalah kualitas kualitas umum yang harus dimiliki oleh sang terapis.

Kongruensi konselor
Kondisi pertama yang dibutuhkan dan cukup bagi sang terapis adalah seorang terapis yang kongruensi. Kongruensi muncul ketika penghayatan organismik seseorang cocok dengan sesadaran akan pengalaman pengalaman tersebut, dan juga cocok untuk kemampuan dan kesediaan untuk mengekspresikan secara terbuka perasaan perasaa tersebut.
Terapis yang kongruensi juga tidak stasis. Seperti anyak orang pada umumnya. Mereka secara konstan terbuka kepada pengalaman.
Didalam kongruensi juga melibatkan 3 faktor yaitu :
1.      Perasaaan
2.      Kesadaran
3.      Ekspresi
Maka ketidak konguruensi dapat muncul dari ketiga titik yang membedakan :
Pertama, dia dapat muncul karena terputus hubungan antara perasaan dan kesadaran
Kedua, ketidak kongruensi adalah pertentangan antara kesadaran terhadapan pengalaman dan kemampuan.
Angagapan positif tanpa syarat
Anggapan positif adalah kebutuhan untuk menjadi disukai diterima, dan dihargai oleh orang lain. Jika kebutuhan ini dipenuhi tanpa persyaratan atau kualifikasi apapun maka anggapan positif tanpa syarat akan muncul.
Terapis memiliki anggapan positif tanpa syarat apabila mereka mengelami sikap positif, hangat, merasa dihargai dan  penerimaan.
Seorang terapis dengan anggapan tanpa syarat terhadap klien akan menunjukkan kehangatan yang tidak posesif dan penerimaan terhadap pribadi klien yang apa adanya, sebuah sikap yang boleh dibuat buat.
Anggapan positif tanpa syarat berarti trapis menerima dan menghargai klien tanpa ketentuan atau persyaratan apa pun, bahkan tidak mengindahkan perilaku pasien yang ekstrem selama sesi terapi berlangsung.
Meskipun anggapan postif tanpa syarat merupakan istilah yang agak menajubkan namun masing masing dari ketiga kata ini memiliki proporsi yang penting. “anggapan” beraarti memiliki hubungan yang dekat “positif” berarti perasaan hangat dan menerim apa adanya dan “syarat” anggapanpositif ini tidak lagi bergantung pada tindakan tertentu klien yang bergantung pada tindakan klien yang harus terus menerus diupayakannya.
Mendengarkan secara empati ..
isi ketiga yang di butuhkan dan cukup bagi pertumbuhan psikologis adalah mendengarkan secara empatik (empathic listening). Empati muncul saat terapis secara akurat merasakan perasaan perasaan klien dan sanggup mengkomunikasikan presepsi presepsi ini sehingga klien tahu bahwa orang lain sudah memasuki dunia perasaan mereka tanpa prasangka, proyeksi ataupun penghakiman. Bagi Rogers (1980, helm 142) empati berarti tinggal sementara waktu dalam kehidupan orang lain, menggerakkannya secara halus tanpa harus melakukan penghakiman.  Empati bukanlah interpretasi terhadap pengertian yang dimaknai pasien atau menyingkapkan perasaan perasan tak sadar mereka, karena prosedur prosedur ini mengandung kerangka acuan eksternal dan akan di rasakan sebagai sebuah ancaman oleh klien.
TAYANGAN TENTANG PANDANGAN HUMANISTIK (ROGERS)
Sinopsis: seorang pria yang berkeinginan menjadi wanita hingga mengubah bagian tubuhnya menjadi seorang wanita dengan suntik hormon, namun saat ini pria itu ingin kembali menjadi pria.
            Hal ini tentu tidak sesuai dengan dirinya karena keinginannya untuk menjadi wanita padahal dia adalah seorang pria, maka dalam video ini bersangkutan dengan teori tentang Incongruency (ketidaksesuain) menurut rogers yang tidak sehat.
Link: https://www.youtube.com/watch?v=qUWgAu3OUno

Kesimpulan
Kepribadian yang sehat menurut Allport
Kepribadian menurut Allport adalah pengorganisasian dinamis dalam diri individu dimana sistem psikofisiknya menentukan perilaku dan pikirannya. Allport percaya bahwa kesehatan psikologis adalah melihat kedepan, tidak melihat kebelakang.
Allport mengidentifikasikan enam kriteria bagi kepribadian yang sehat:
1.      Perluasan Konsep Diri à Kemampuan berpartisipasi dan menikmati dalam jangkauan yang luas
2.      Hubungan hangat dengan dirinya sendiri à Memiliki kemampuan untuk mencintai orang lain dengan cara yang intim dan penuh kasih
3.      Penerimaan Diri à Individu menerima diri mereka sendiri apa adanya dan mampu menghadapi rasa frustasi.
4.      Memiliki persepsi yang realistis tentang lingkungan sekitarnya à Mereka tidak hidup di dunia fantasi atau memaksakan realitas agar cocok dengan keinginannya
5.      Objektivitas Diri : Insight (kedalaman wawasan) dan humor à mengenal dirinya sehingga tidak perlu melimpahkan kesalahan dan kelemahan mereka kepada orang lain dan humor yang memberikan kemampuan untuk menertawakan diri sendiri daripada hanya mengandalkan tema-tema seksual atau agresivitas untuk memunculkan tawa dari orang lain.
6.      Filsafat Hidup à memiliki konsep yang jelas tentang tujuan hidup.
Kepribadian yang sehat menurut Rogers
Kepribadian menurut Rogers merupakan hasil interaksi yang terus menerus antara organisme, self dan medan fenomenal. Organisme adalah keseluruhan totalitas individu yang meliputi pemikiran, perilaku, dan keadaan fisik. Self adalah bagian yang terpenting. Self merupakan persepsi dan nilai-nilai individu tentang dirinya sendiri. Medan fenomenal merupakan keseluruhan pengalaman seseorang yang diterimanya baik disadari maupun yang tidak disadari.
1.      Teori Person-Centered
Dari semua teori, teori Person-Centered Rogers yang paling mendekati standar ini. Salah satu contoh konstruksi jika-maka adalah Jika kondisi tertentu hadir , maka suatu proses meski akan terjadi ; jika proses semacam ini muncul, maka hasil-hasil tertentu bisa kita prediksi.
2.      Ketidakkongruenan (incongruency)
Rongers (1959) percaya bahwa manusia menjadi rapuh (vulnerable) saat mereka tidak menyadari cacat antara diri organismic dan pengalaman mereka yang signifikan. Karena kurang menyadari ketidakkongruenan ini, pribadi yang rapuh sering kali bersikap dengan cara-cara yang tidak komprehensif bukan hanya terhadap orang lain tetapi juga terhadap dirinya sendiri.
3.      Kongruensi konselor
Didalam kongruensi juga melibatkan 3 faktor yaitu :
a.       Perasaaan
b.      Kesadaran
c.       Ekspresi

SUMBER: Diringkas dari buku Theories Of Personality (Jess Feist & Gregory J. Feist) Edisi Keenam.