I.
PSIKOTERAPI
PENGERTIAN
PSIKOTERAPI
Watson
& Morse (1977) Psikoterapi adalah bentuk khusus dari interaksi antara dua
orang, pasien dan terapis, pada mana pasien memulai interaksi karena ia mencari
bantuan psikologik dan terapis menyusun interaksi dengan mempergunakan dasar
psikologik untuk membantu pasien meningkatkan kemampuan mengendalikan diri
dalam kehidupannya dengan mengubah pikiran, perasaan dan tindakannya,
Corsini
(1989) Psikoterapi adalah proses formal dari interaksi antara dua pihak, setiap
pihak biasanya terdiri dari satu oran, tetapi ada kemungkinan terdiri dari dua
orang atau lebih pada setiap pihak, dengan tujuan memperbaiki keadaan yyang
tidak menyenangkan (distress) pada salah satu dari kedua pihak karena
ketidakmampuan atau malafungsi pada salah satu dari bidang-bidang berikut:
fungsi kognitif (kelainan pada fungsi berfikir), fungsi afektif (penderitaan
atau kehidupan emosi yang tidak menyenangkan) atau fungsi perilaku
(ketidaktepatan perilaku); dengan terapis yang memiliki teori tentang asal-usul
kepribadian, perkembangan, mempertahankan dan mengubah bersama-sama dengan
beberapa metode perawatan yang mempunyai dasar teori dan profesinya diakui
resmi untuk bertindak sebagai terapis.
Ivey
& Simek-Downing (1980) Psikoterapi adalah proses jangka panjang,
berhubungan dengan upaya merekonstruksi seseorang dan perubahan yang lebih
besar pada struktur kepribadian.
TUJUAN
PSIKOTERAPI
Berikut
ini akan diuraikan mengenai tujuan dari psikoterapi secara khusus dari beberapa
metode dan teknik psikoterapi yang banyak peminatnya, dari dua oran tokoh yakni
Ivey, et al (1987) dan Corey (1991):
1.
Tujuan psikoterapi dengan pendekatan
psikodinamik, menurut Ivey, et al (1987): membuat sesuatu yang tidak sadar
menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap
kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari
konflik-konflik yang lama.
2.
Tujuan psikoterapi dengan pendekatan
psikoanalisi, menurut Corey (1991): membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi
sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupkan kembali
pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang
ditekan melalui pemahaman intelektual.
3.
Tujuan psikoterapi dengan pendekatan
Rogerian, terpusat pada pribadi, menurut Ivey, et al (1987): untuk memberikan
jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang menemukan sendiri arahnya secara
wajar dan menemukan dirinya sendiri yang nyata atau yang ideal dan
mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberi jalan bagi pertumbuhannya yang
unik.
4.
Tujuan psikoterapi pada pendekatan
terpusat pada pribadi, menurut Corey (1991): untuk memberikan suasana aman,
bebas, agar klien mengeksplorasi diri dengan enak, sehingga ia bisa mengenai
hal-hal yang mencegah pertumbuhannya dan bisa mengalami aspek-aspek pada
dirinya yang sebelumnya ditolak atau terhambat.
5.
Tujuan psikoterapi dengan pendekatan
behavioristik, menurut Ivey, et al (1987): untuk menghilangkan kesalahan dalam
belajar dan untuk mengganti dengan pola-pola perilaku yang lebih bisa
menyesuaikan.
6.
Sehubung dengan terapi behavioristik
ini, Ivey, et al (1987) menjelaskan mengenai tujuan pada terapi
kognitif-behavioristik, yakni: menghilangkan cara berfikir yang menyalahkan
diri sendiri, mengembangkan cara memandang lebih rasional dan toleran terhadap
diri sendiri dan orang lain.
7.
Corey (1991) merumuskan mengenai
kognitif-behavioristik dan sekaligus rasional-emotif terapi dengan:
menghilangkan cara memandang dalam kehidupan pasien yang menyalahkan diri
sendiri dan membantunya memperoleh pandangan dalam hidup secara rasional dan
toleran.
8.
Tujuan psikoterapi dengan metode dan
teknik Gestalt, dirumuskan oleh Ivey, et al (1987): agar seseorang menyadari
mengenai kehidupannya dan bertanggung jawab terhadap arah kehidupan seseorang.
9.
Corey (1991) merumuskan tujuan terapi
Gestalt: membantu klien memperoleh pemahaman mengenai saat-saat dari
pengalamannya. Untuk merangsang menerima tanggung jawab dari dorongan yang ada
di dunia dalamnya yang bertentangan dengan ketergantungannya terhadap
dorongan-dorongan dari dunia luar.
UNSUR-UNSUR
PSIKOTERAPI
Masserman (Karasu 1984)
telah melaporkan tujuh “parameter pengaruh” dasar yang mencakup unsur-unsur
lazim pada semua jenis psikoterapi. Dalam hal ini termasuk :
1.
Peran sosial (martabat) psikoterapis,
2.
Hubungan (persekutuan terapeutik),
3.
Hak,
4.
Retrospeksi,
5.
Re-edukasi,
6.
Rehabilitasi,
7.
Resosialisasi dan rekapitulasi.
PERBEDAAN
ANTARA PSIKOTERAPI DAN KONSELING
Adanya pengertian &
konsep yang tumpang tindih antara psikoterapi & konseling yang sulit
dihindari, maka dewasa ini kedua istilah ini seringkali muncul bersama. Namun
secara umum, perbedaannya dapat dilihat sebagai berikut :
Konseling
|
Psikoterapi
|
|
< intensif
|
> intensif
|
|
preventif
|
Kuratif / reapartif
|
|
Fokus : edukasi,
vocational, perkembangan
|
Fokus : remedial
|
|
Setting : sekolah,
industri, social work,
|
Setting : rumah
sakit, klinik, praktek pribadi,
|
|
Jumlah intervensi
<
|
Jumlah intervensi
>
|
|
supportive
|
rekonstructive
|
|
Penekanan “normal”
/ masalah ringan
|
Penekanan “disfungsi”
/ masalah berat
|
|
Short term
|
Long term
|
PENDEKATAN
TERHADAP MENTAL ILLNES
Terdapat beberapa
pendekatan psikoterapi terhadap mental illness seperti:
1.
Psychoanalysis dan psychodynamic:
Berfokus terhadap mengubah masalah prilaku, perasaan dan pikiran dengan cara
memahami akar masalah yang biasanya tersembunyi di pikiran bawah sadarnya untuk
mendapat solusi.
2.
Behavior therapy:Berfokus dalam hukum
pembelajaran. Perilaku seseorang akan dipengaruhi proses pembelajaran seumur
hidup tokohnya adalah Ivan Pavlov yang menemukan teknik classical
conditioning assosiative learning. Inti dari pendekatan behavior
therapy adalah manusia bertindak secara otomatis karena membentuk
asossiasi (hubungan sebab-akibat atau aksi-reaksi).
3.
Cognitive therapy: Cognitive
therapy dalah penyebab difungsi pikiran dan menyebabkan difungsi perilaku.
Tokohnya Albert Ellis dan Aron Back. Tujuan utama pendekatan kognitif adalah
mengubah pola pikir dengan cara mengubah meningkatkan kesadaran dalam pola
pikir rasional, metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan
kognitif adalah collaborative empiricism, guide discovery.
4.
Humanistic therapy:
Pendekatan humanistic therapy menganggap bahwa setiap manusia itu
unik dan setiap manusia sebenarnya mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.
Setiap manusia dengan keunikannya bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri.
Oleh karena itu dalam terapi humanistik, seorang psikoterapis berperan sebagai
fasilitator perubahan saja bukan mengarahkan perubahan.
5.
Integrative therapy: Apabila seseorang
klien mengalami komplikasi gangguan psikologis yang namanya tidak cukup bila
ditangani dengan satu metode psikoterapi saja.
II.
TERAPI
PSIKOANALISIS
KONSEP
DASAR TEORI PSIKOANALISIS TENTANG KEPRIBADIAN
1.
KESADARAN
Sigmund
Freud mengemukakan bahwa kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran, yakni
sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak-sadar (unconscious).
Topografi atau peta kesadaran ini dipakai untuk mendiskripsi unsur cermati
(awareness) dalan setiap event mental seperti berfikir dan berfantasi. Sampai
dengan tahun 1920an, teori tentang konflik kejiwaan hanya melibatkan ketiga
unsur kesadaran itu.
Baru
pada tahun 1923 Freud mengenalkan tiga model struktural yang lain, yakni id,
ego, dan superego. Struktur baru ini tidak mengganti struktur lama, tetapi
melengkapi/menyempurnakan gambaran mental terutama dalam fungsi atau tujuannya
(lihat representasi grafik struktur kepribadian pada Gambar 1. Enam elemen
pendukung struktur kepribadian itu adalah sebagai berikut:
a)
Sadar (Conscious)
Tingkat
kesadaran yang berisi semua hal yang kita cermati pada saat tertentu. Menurut
Freud, hanya sebagian kecil saja Bari kehidupan mental (fikiran, persepsi,
perasaan dan ingatan) yang masuk kekesadaran (consciousness). Isi daerah sadar
itu merupakan basil proses penyaringan yang diatur oleh stimulus atau
cue-eksternal.
b)
Prasadar (Preconscious)
Disebut
juga ingatan siap (available memory), yakni tingkat kesadaran yang menjadi
jembatan antara sadar dan taksadar. Isi preconscious berasal dari conscious dan
clan unconscious. Pengalaman yang ditinggal oleh perhatian, semula disadari
tetapi kemudian tidak lagi dicermati, akan ditekan pindah ke daerah prasadar.
Di sisi lain, isi-materi daerah tak sadar dapat muncul ke daerah prasadar.
Kalau sensor sadar menangkap bahaya yang bisa timbul akibat kemunculan materi
tak sadar materi itu akan ditekan kembali ke ketidaksadaran. Materi taksadar
yang sudah berada di daerah prasadar itu bisa muncul kesadaran dalam bentuk
simbolik, seperti mimpi, lamunan, salah ucap, dan mekanisme pertahanan diri.
c)
Tak Sadar (Unconscious)
Tak
sadar adalah bagian yang paling dalam dari struktur kesadaran dan menurut Freud
merupakan bagian terpenting dari jiwa manusia. Secara khusus Freud membuktikan
bahwa ketidaksadaran bukanlah abstraksi hipotetik tetapi itu adalah kenyataan
empirik
Ketidaksadaran
itu berisi insting, impuls dan drives yang dibawa dari lahir, dan
pengalaman-pengalaman traumatik (biasanya pada masa anak-anak) yang ditekan
oleh kesadaran dipindah ke daerah taksadar. Isi atau materi ketidaksadaran itu
memiliki kecenderungan kuat untuk bertahan terus dalam ketidaksadaran,
pengaruhnya dalam mengatur tingkahlaku sangat kuat namun tetap tidak disadari.
2.
STRUKTUR KEPRIBADIAN
Sigmund
Freud mengemukakan tiga struktur spesifik kepribadian yaitu Id, Ego dan
Superego. Ketiga struktur tersebut diyakininya terbentuk secara mendasar pada
usia tujuh tahun. Struktur ini dapat ditampilkan secara diagramatik dalam
kaitannya dengan aksesibilitas bagi kesadaran atau jangkauan kesadaran
individu. Id merupakan libido murni atau energi psikis yang bersifat irasional.
Id merupakan sebuah keinginan yang dituntun oleh prinsip kenikmatan dan
berusaha untuk memuaskan kebutuhan ini.
3.
PERKEMBANGAN PSIKOSEKSUAL
Tahap
Perkembangan Psikoseksual Sigmund Freud adalah salah satu teori yang
paling terkenal, akan tetapi juga salah satu teori yang paling kontroversial.
Freud percaya kepribadian yang berkembang melalui serangkaian tahapan masa
kanak-kanak di mana mencari kesenangan-energi dari id menjadi fokus pada area
sensitif seksual tertentu. Energi psikoseksual, atau libido , digambarkan
sebagai kekuatan pendorong di belakang perilaku.Menurut Sigmund Freud,
kepribadian sebagian besar dibentuk oleh usia lima tahun. Awal perkembangan
berpengaruh besar dalam pembentukan kepribadian dan terus mempengaruhi perilaku
di kemudian hari.
·
Fase Oral
Pada
tahap oral, sumber utama bayi interaksi terjadi melalui mulut, sehingga
perakaran dan refleks mengisap adalah sangat penting.
·
Fase Anal
Pada
tahap anal, Freud percaya bahwa fokus utama dari libido adalah pada
pengendalian kandung kemih dan buang air besar. Konflik utama pada tahap ini
adalah pelatihan toilet – anak harus belajar untuk mengendalikan kebutuhan tubuhnya.
·
Fase Phalic
Pada
tahap phallic , fokus utama dari libido adalah pada alat kelamin. Anak-anak
juga menemukan perbedaan antara pria dan wanita. Freud juga percaya bahwa anak
laki-laki mulai melihat ayah mereka sebagai saingan untuk ibu kasih sayang itu.
Kompleks Oedipusmenggambarkan perasaan ini ingin memiliki ibu dan keinginan
untuk menggantikan ayah.Namun, anak juga kekhawatiran bahwa ia akan dihukum
oleh ayah untuk perasaan ini, takut Freud disebut pengebirian kecemasan. Istilah
Electra kompleks telah digunakan untuk menggambarkan satu set sama perasaan
yang dialami oleh gadis-gadis muda.
·
Fase Latent
Periode
laten adalah saat eksplorasi di mana energi seksual tetap ada, tetapi diarahkan
ke daerah lain seperti pengejaran intelektual dan interaksi sosial. Tahap ini
sangat penting dalam pengembangan keterampilan sosial dan komunikasi dan
kepercayaan diri. Freud menggambarkan fase latens sebagai salah satu yang
relatif stabil. Tidak ada organisasi baru seksualitas berkembang, dan dia tidak
membayar banyak perhatian untuk itu. Untuk alasan ini, fase ini tidak selalu
disebutkan dalam deskripsi teori sebagai salah satu tahap, tetapi sebagai suatu
periode terpisah.
·
Fase Genital
Pada
tahap akhir perkembangan psikoseksual, individu mengembangkan minat seksual
yang kuat pada lawan jenis. Dimana dalam tahap-tahap awal fokus hanya pada
kebutuhan individu, kepentingan kesejahteraan orang lain tumbuh selama tahap
ini. Jika tahap lainnya telah selesai dengan sukses, individu sekarang harus
seimbang, hangat dan peduli. Tujuan dari tahap ini adalah untuk menetapkan
keseimbangan antara berbagai bidang kehidupan.
4.
MEKANISME PERTAHANAN EGO
1. Represi
(Repression): Bentuk pertahanan ego dengan menyingkirkan pikiran-pikiran atau
ingatan-ingatan yang tidak diinginkan. Ia akan sengaja melupakan kenanganatau
pikiran yang tidak menyenangkan atau tidak sesuai dengan keinginannya.
2. Kompensasi:
Yaitu dengancara menutupi kelemahan dalam dirinya dengan menonjol-nonjolkan
sifat lain, lalu dicari kepuasans ecara berlebihan dalam bidang lain tersebut.
3. Konversi
(Convertion): Adalah mekanisme konflik emosional yang diekspresikan keluar.
Misal :Seseorang yang sedang stress menjadi marah-marah, teriak-teriak, atau
berolah raga.
4. Penyangkalanatau
Denial: Mekanisme dimana seseorang menghindari kenyataan dan secara sadar
menyangkal adanya kenyataan tersebut. Ia menyangkal realita yang dapat
menimbulkan rasa sakit, malu, ataucemas.
5. Pemindahan
(Displacement): Dimana emosi-emosi yang terjadi pada dirinya DILAMPIASKAN ke
objek-objek atau orang lain.
6. Disosiasi:
Dengan cara memutuskan atau mengubah beban emosi dalam dirinya.
7. Identifikasi:
dimana seseorang mempertinggi harga dirinya dengan mempolakan dirinya serupa
dengan orang lain (biasanya seorang idola atau figur).
8. Proyeksi:
yaitu seseorang yang melindungi dirinya dari tabiat-tabiat, sikap, dan
karakternya sendiri, atau pun perasaannya dengan melemparkan atau
menyalahkannya ke orang lain.
9. Rasionalisasi:
seseorang yang mencarialasan-alasan yang
dibenarkanataudapatditerimaolehnormamaupun orang lain
terhadaptindakannyaataupikirannya.
10. PembentukanReaksi:
proses dimana mengambil objek kedalam struktur egonya sendiri agar tidak
menuruti keinginannya yang jelek dan diambil sikap yang sebaliknya.
11. Regresi:
adalah keadaan seseorang yang kembali ketingkat awal menjadi kurang matang dan
kurang adaptif.
12. Sublimasi:
yaitu kehendak-kehendak atau pikiran-pikiran atau tindakan-tindakan asadar yang
tidak dapat diterima oleh lingkungan atau masyarakat disalurkan menjadia
ktifitas yang memiliki nilai sosial yang tinggi.
UNSUR-UNSUR
TERAPI PSIKOANALISIS
1. Tujuan
psikoterapi dengan pendekatan Psikodinamik menurut Ivey, et al (1987) adalah :
membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari.
Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah
lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
2. Tujuan
psikoterapi dengan pendekatam psikoanalisis menurut Corey (1991) dirumuslan
sebagai : membuat sesuatu yag tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari.
Membantu klien dalam menghidupakan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah
lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman
intelektual.
3. Tujuan
psikoterapi dengan pendekatan Rogerian, terpusat pada peribadi, menurut Ivey,
et al (1987) adalah : untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki
seseorang menemukan sendiri arahnya secara wajar dan menemukan dirinya sendiri
yang nyata atau yang ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberi
jalan bagi pertumbuhan dirinya yang unik.
TEKNIK-TEKNIK
TERAPI PSIKOANALISIS
1.
Asosiasi Bebas
Asosiasi
Bebas merupakan teknik utama dalam psikoanalisis. Terapis meminta klien agar
membersihkan pikirannya dari pikiran-pikiran dan renungan-renungan sehari-hari,
serta sedapat mungkin mengatakan apa saja yang muncul dan melintas dalam
pikiran. Cara yang khas adalah dengan mempersilakan klien berbaring di atas
balai-balai, sementara terapis duduk dibelakangnya sehingga tidak mengalihkan
perhatian klien pada saat-saat asosiasinya mengalir dengan bebas.
Asosiasi
bebas merupakan suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa
lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatis masa
lalu, yang kemudian dikenal dengan katarsis. Kartarsis hanya
menghasilkan perbedaan sementara atas pengalaman-pengalaman menyakitkan pada
klien, tetapi tidak memainkan peran utama dalam proses treatment (Corey,
1995).
2.
Penafsiran (Interpretasi)
Penafsiran merupakan
prosedur dasar di dalam menganalisis asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi,
dan transferensi. Caranya adalah dengan tindakan-tindakan terapis untuk
menyatakan, menerangkan dan mengajarkan klirn makna-makna tingkah laku apa yang
dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resistensi, dan hubungan
terapeutik itu sendiri. Fungsi dari penafsiran ini adalah mendorong ego untuk
mengasimilasi bahan-bahan baru dan mempercepat proses pengungkapan alam bawah
sadar secara lebih lanjud. Penafsiran yang diberikan oleh terapis menyebabkan
adanya pemahaman dan tidak terhalanginya alam bawah sadar pada diri klien.
(Corey, 1995).
3.
Analisis Mimpi
Analisis
Mimpi adalah prosedur atau cara yang penting untuk mengungkap alam bawah sadar
dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak
terselesaikan. Selama tidur, pertahanan-pertahanan melemah, sehingga
perasaan-perasaan yang direpres akan muncul kepermukaan, meski dalam
bentuk lain. Freud memandang bahwa mimpi merupakan “jalan istimewa menuju
ketidaksadaran”, karena melalui mimpi tersebut hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan,
dan ketakutan tak sadar dapat diungkapkan. Beberapa motivasi sangat tidak dapat
diterima oleh seseorang, sehingga akhirnya diungkapkan dalam bentuk yang
disamarkan atau disimbolkan dalam bentuk yang berbeda.
Mimpi
memiliki dua taraf, yaitu isi laten dan isi manifes. Isi laten
terdiri atas motif-motif yang disamarkan, tersembunyi, simbolik, dan tidak
disadari. Karena begitu menyakitkan dan mengancam, maka dorongan-dorongan
seksual dan perilaku agresif tak sadar (yang merupakan isi laten) ditransformasikan
ke dalam isi manifes yang lebih dapat diterima, yaitu impian yang tampil pada
si pemimpi sebagaimana adanya. Sementara tugas terapis adalah mengungkapkan
makna-makna yang disamarkan dengan mempelajari simbol-simbol yang terdapat
dalam isi manifes. Di dalam proses terapi, terapis juga dapat meminta klien
untuk mengasosiasikan secara bebas sejumlah aspek isi manifes impian untuk
mengungkapkan makna-makna yang terselubung (Corey, 1995).
4.
Resistesi
Resistensi
adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan
bahan yang tidak disadari. Selama asosiasi bebas dan analisis mimpi, klien
dapat menunjukkan ketidaksediaan untuk menghubungkan pikiran, perasaan, dan
pengalaman tertentu. Freud memandang bahwa resistensi dianggap sebagai dinamika
tak sadar yang digunakan oleh klien sebagai pertahanan terhadap kecemasan yang
tidak bisa dibiarkan, yang akan meningkat jika klien menjadi sadar atas
dorongan atau perasaan yang direpres tersebut. Dalam proses terapi, resistensi
bukanlah sesuatu yang harus diatasi, karena merupakan perwujudan dari
pertahanan klien yang biasanya dilakukan sehari-hari. Resistensi ini dapat
dilihat sebagai sarana untuk bertahan klien terhadap kecemasan, meski sebenarnya
menghambat kemampuannya untuk menghadapi hidup yang lebih memuaskan (Corey,
1995).
5.
Transferensi
Resistensi
dan Transferensi merupakan dua hal inti dalam terapi psikoanalisis.
Transferensi dalam keadaan normal adalah pemindahan emosi dari satu objek ke
objek lainnya, atau secara lebih khusus pemindahan emosi dari orangtua kepada
terapis. Dalam keadaan neurosis, merupakan pemuasan libido klien yang diperoleh
melalui mekanisme pengganti atau lewat kasih sayang yang melekat dan kasih
sayang pengganti. Seperti ketika klien menjadi lekat dan jatuh cinta pada
terapis sebagai pemindahan dari orangtuanya (Chaplin, 1995). Transferensi
mengejawantah ketika dalam proses terapi “urusan yang tidak selesai” (unfinished
business) masa lalu klien dengan orang-orang yang dianggap berpengaruh
menyebabkan klien mendistorsi dan bereaksi terhadap terapis sebagaimana dia
bereaksi terhadap ayah/ibunya. Dalam hubungannya dengan terapis, klien
mengalami kembali perasaan menolak dan membenci sebagaimana yang dulu dirasakan
kepada orangtuanya. Tugas terapis adalah membangkitkan neurosis transferensi
klien dengan kenetralan, objektivitas, keanoniman dan kepasifan yang relatif.
Dengan cara ini, maka diharapkan klien dapat menghidupkan kembali masa
lampaunya dalam terapi dan memungkinan klien mampu memperoleh pemahaman dan
sifat-sifat dari fiksasi-fiksasi, konflik-konflik atau deprivasi-deprivasinya,
serta mengatakan kepada klien suatu pemahaman mengenai pengaruh masa lalu
terhadap kehidupannya saat ini (Corey, 1995).
III.
TERAPI
HUMANISTIK EKSISTENSIAL
KONSEP
DASAR TEORI HUMANISTIK EKSISTENSIAL TENTANG KEPRIBADIAN
1.
Kesadaran diri
Manusia memiliki
kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan
nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Semakin kuat
kesadaran diri itu pada seseorang, maka akan semakin besar pula kebebasan yang
ada pada orang itu. Kesanggupan untuk memilih alternative – alternatif yakni
memutuskan secara bebas di dalam kerangka pembatasnya adalah suatu aspek yang
esensial pada manusia.
Pada hakikatnya,
semakin tinggi kesadaran diri seseorang, maka ia semakin hidup sebagai pribadi
atau sebagaimana dinyatakan oleh Kierkegaard, "Semakin tinggi kesadaran,
maka semakin utuh diri seseorang." Tanggung jawab berlandaskan kesanggupan
untuk sadar. Dengan kesadaran, seseorang bisa menjadi sadar atas tanggung
jawabnya untuk memilih. Sebagaimana dinyatakan oleh May (1953), "Manusia
adalah makhluk yang bisa menyadari dan, oleh karenanya, bertanggung jawab atas
keberadaannya”.
Dalam pengertian yang
sesungguhnya, peningkatan kesadaran diri yang mencakup kesadaran atas
alternatif-alternatif, motivasi-motivasi, faktor-faktor yang membentuk pribadi
dan atas tujuan-tujuan pribadi adalah tujuan segenap konseling
2.
Kebebasan dan tanggung jawab
Manusia adalah makhluk
yang menentukan diri, dalam arti bahwa dia memiliki kebebasan untuk memilih di
antara altematif-altematif. Karena manusia pada dasarnya bebas, maka dia harus
bertanggung jawab atas pengarahan hidup dan penentuan nasibnya sendiri.
Pendekatan eksistensial meletakkan kebebasan, determinasi diri, keinginan, dan
putusan pada pusat keberadaan manusia. Jika kesadaran dan kebebasan dihapus
dari manusia, maka dia tidak lagi hadir sebagai manusia, sebab
kesanggupan-kesanggupan itulah yang memberinya kemanusiaan. Pandangan
eksistensial adalah bahwa individu, dengan putusan-putusannya, membentuk nasib
dan mengukir keberadaannya sendiri. Seseorang menjadi apa yang diputuskannya,
dan dia harus bertanggung jawab atas jalan hidup yang ditempuhnya. Tillich
mengingatkan, "Manusia benar-benar menjadi manusia hanya saat mengambil
putusan. Sartre mengatakan, "Kita adalah pilihan kita." Nietzsche
menjabarkan kebebasan sebagai "kesanggupan untuk menjadi apa yang memang
kita alami". Ungkapan Kierkegaard, "memilih diri sendiri",
menyiratkan bahwa seseorang bertanggung jawab atas kehidupan dan keberadaannya.
Sedangkan Jaspers menyebutkan bahwa "kita adalah makhluk yang memutuskan".
Tugas konselor adalah
mendorong konseli untuk belajar menanggung risiko terhadap akibat penggunaan
kebebasannya. Yang jangan dilakukan adalah melumpuhkan konseli dan membuatnya
bergantung secara neurotik pada konselor. Konselor perlu mengajari konseli
bahwa dia bisa mulai membuat pilihan meskipun konseli boleh jadi telah
menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk melarikan diri dari kebebasan
memilih
3.
Kecemasan
Kecemasan adalah suatu
karakteristik dasar manusia. Kecemasan tidak perlu merupakan sesuatu yang
patologis, sebab ia bisa menjadi suatu tenaga motivasi yang kuat untuk
pertumbuhan. Kecemasan adalah akibat dari kesadaran atas tanggung jawab untuk
memilih. Sebenarnya, konselor eksistensial tidak memandang kecemasan sebagai
hal yang tak diharapkan. Jika konseli tidak mengalami kecemasan, maka
motivasinya untuk berubah akan rendah. Kecemasan dapat ditransformasikan ke
dalam energi yang dibutuhkan untuk bertahan menghadapi risiko bereksperimen
dengan tingkah laku baru. Implikasi-implikasi konseling bagi kecemasan.
Kebanyakan orang mencari bantuan profesional karena mereka mengalami kecemasan
atau depresi banyak klien yang memasuki kantor konselor disertai harapan bahwa
konselor akan mencabut penderitaan mereka atau setidaknya akan memberikan
formula tertentu untuk mengurangi kecemasan mereka. Konselor yang berorientasi
eksistensial tidak semata-mata untuk menghilangi gejala-gejala atau kecemasan.
Konselor eksistensial tidak memandang kecemasan sebagai hal yang tidak
diharapkan. Kecemasan adalah bahan bagi konseling yang produktif baik konseling
individual maupun konseling kelompok. Kecemasan dapat ditransformasikan kedalam
energi yang dibutuhkan untuk bertahan menghadapi resiko bereksperimen dengan
tingkah laku baru.
4.
Penciptaan Makna
Manusia itu unik, dalam
artian bahwa dia berusaha untuk menemukan tujuan hidup dan menciptakan
nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Pada hakikatnya manusia
memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang
bermakna, sebab manusia adalah makhluk rasional. Kegagalan dalam menciptakan
hubungan yang bermakna dapat menimbulkan kondisi-kondisi keterasingan dan
kesepian. Manusia juga berusaha untuk mengaktualkan diri yakni mengungkapkan
potensi – potensi manusiawinya sampai taraf tertentu.
UNSUR-UNSUR
HUMANISTIK EKSISTENSIAL
1.
Munculnya masalah: Berfokus pada kondisi
manusia, suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia alih-alih
suatu sistem teknik-teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien.
2.
Tujuan terapi dan peran terapis: Terapi
eksistensial bertujuan agar klien mengalami keberadaaanya secara otentik dengan
menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat
membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya. Pada dasarnya, tujuan
terapi eksistensial adalah meluaskan kesadran diri klien, dan karenanya meningkatkan
kesanggupan pilihannya, yakni menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah
hidupnya. Tugas utama terapis adalah berusaha memahami klien sebagai ada dalam-dunia.
Teknik yang digunakan mengikuti alih-alih mendahului pemahaman. Karena
menekankan pada pengalaman klien sekarang, para terapis eksistensial
menunjukkan keleluasaan dalam menggunakan metodde-metode dan prosedur yang
digunakan oleh merekea bisa bervariasi tidak hanya dari klien yang satu kepada
klien lainnya, tetapi juga dari satu ke lain fase terapi yang dijalani oleh
klien yang sama.
TEKNIK-TEKNIK
HUMANISTIK EKSISTENSIAL
Tidak
seperti kebanyakan pendekatan terapi, pendekatan eksistensial-humanistik tidak
memiliki teknik-teknik yang ditentukan secara ketat. Prosedur-prosedur terapeutik
bisa dipungut dari beberapa pendekatan terapi lainnya. Metode-metode yang
berasal dari terapi Gestalt dan analisis transaksional sering
digunakan, dan sejumlah prinsip dan prosedur psikoanalisis bisa diintegrasikan
ke dalam pendekatan eksistensial-humanistik.
IV.
PERSON
CENTERED THERAPY (ROGERS)
KONSEP
DASAR PANDANGAN ROGERS TENTANG KEPRIBADIAN
1.
Pengalaman
Pengalaman
mengacu pada dunia pribadi individu. Setiap saat, sebagian dari hal ini terkait
akan kesadaran. Misalnya, kita merasakan tekanan pena terhadap jari – jari kita
seperti yang kita tulis. Beberapa mungkin sulit untuk membawa ke dalam
kesadaran, seperti ide, “Aku orang yang agresif”. Sementara kesadaran masyarakat
yang sebenarnya dari total lapangan pengalaman mereka mungkin terbatas, setiap
individu adalah satu – satunya yang bisa tahu itu seluruhnya.
2.
Realitas
Untuk
tujuan psikologis, realitas pada dasarnya adalah dunia pribadi dari persepsi
individu, meskipun untuk tujuan sosial realitas terdiri dari orang – orang yang
memiliki persepsi tingkat tinggi kesamaan antara berbagai individu. Dua orang
akan setuju pada kenyataan bahwa orang tertentu adalah politisi. Satu melihat
dirinya sebagai seorang wanita baik yang ingin membantu orang dan berdasarkan
kenyataan orang menilai untuk dirinya. Kenyataannya orang lain adalah bahwa
politisi menyisihkan uang untuk rakyat dalam memiliki tujuan untuk memenangi
hati dari rakyat. Oleh karena itu orang ini memberi suara padanya (wanita).
Dalam terapi, di sebut sebagai merubah perasaan dan merubah persepsi.
3.
Organisme Bereaksi sebagai Terorganisir
yang utuh
Seseorang
mungkin lapar, tetapi karena harus menyelesaikan laporan. Maka, orang tersebut
akan melewatkan makan siang. Dalam psikoterapi, klien sering menjadi lebih
jelas tentang apa yang lebih penting bagi mereka. Sehingga perubahan perilaku
di arahkan dalam tujuan untuk di klasifikasikan. Seorang politisi dapat
memutuskan untuk tidak mrncalonkan diri untuk mendapatkan jabatan karena ia
memutuskan bahwa kehidupan keluarganya lebih penting dari pada mencalonkan diri
sebagai pejabat.
4.
Organisme mengaktualisasi kecenderungan
(The Organism Actualizing Tendency)
Ini
adalah prinsip utama dalam tulisan – tulisan dari Kurt Goldstein, Hobart
Mowrer, Harry Stack Sullivan, Karen Horney, dan Andras Angyai. Untuk nama hanya
beberapa. Perjuangan untuk mengajarkan anak dalam belajar jalan adalah sebuah
contoh. Ini adalah keyakinan Rogers dan keyakinan sebagaian besar teori
kepribadian yang lain. Di beri pilihan bebas dan tidak adanya kekuatan
eksternal. Individu lebih memilih untuk menjadi sehat daripada sakit, untuk
menjadi independen dari pada bergantung. Dan secara umum untuk mendorong
pengembangan optimal dari organisme total.
5.
Frame Internal Referensi
Ini
adalah bidang persepsi individu. Ini adalah cara dunia muncul dan sebuah makna
yang melekat pada pengalaman dan melibatkan perasaaan. Dari titik orang
memiliki pusat pandangan. Kerangka acuan internal memberikan pemahamana
sepenuhnya tentang mengapa orang berperilaku seperti yang mereka lakukan. Hal
ini harus di bedakan dari penilaian eksternal perilaku, sikap, dan kepribadian.
6.
Konsep Diri
Istilah – istilah mengacu pada gesalt, terorganisir konsisten, konseptual
terdiri dari persepsi karakteristik “I” atau “saya” dan persepsi tentang
hubungan dari “I” atau “Aku” kepada orang lain dan berbagai aspek kehidupan,
bersama dengan nilai – nilai yang melekat pada persepsi ini. Menurut Gesalt
kesadaran merupakan cairan dan proses perubahan.
7.
Symbolization
Ini
adalah proses di mana individu menjadi sadar. Ada kecenderungan untuk menolak
simbolisasi untuk pengalaman berbeda dengan konsep dirinya. Misalnya, orang –
orang menganggap dirinya benar akan cenderung menolak simbolisasi tindakan
berbohong. Pengalaman ambigu cenderung di lambangkan dengan cara yang konsisten
dengan konsep diri. Seorang pembicara kurang percaya diri dapat di lambangkan
khalayak diam sebagai terkesan, orang yang percaya diri dapat melambangkan
sebuah kelompok yang penuh perhatian dan tertarik.
8.
Penyesuaian Psikologis & Ketidakmampuan
Menyesuaikan diri
Hal
ini mengacu pada konsistensi, atau kurangnya konsistensi, antara pengalaman
individu sensorik dan konsep diri. Sebuah konsep diri yang mencakup unsur –
unsur kelemahan dan ketidaksempurnaan memfasilitasi simbolisasi dari pengalaman
kegagalan. Kebutuhan untuk menolak atau mendistorsi pengalaman seperti tidak
ada dan karena itu menumbuhkan kondisi penyesuaian psikologis.
9.
Organismic Valuing Process
Ini
adalah proses yang berkelanjutan di mana individu bebas bergantung pada bukti
indra mereka sendiri untuk membuat penilaian. Hal ini yang berbeda dengan
sistem fixed menilai intrijected di tandai dengan “kewajiban” dan “keharusan”
dan juga dengan apa yang seharusnya benar / salah. Proses menilai organismic konsisten
dengan hipotesis.
10.
The Fully Functioning Person
Rogers
mendefinisikan mereka yang bergantung pada Organismic valuing process seperti
Fully functioning person. Dapat mengalami semua perasaan mereka, ketakutan,
memungkinkan kesadaran bergerak bebas di dalam pikiran mereka dan melalui
pengalaman mereka.
UNSUR-UNSUR
PERSON CENTERED THERAPY
1.
Peran Terapis
Menurut
Rogers, peran terapis bersifat holistik, berakar pada cara mereka berada dan
sikap – sikap mereka, tidak pada teknik – teknik yang di rancang agar klien
melakukan sesuatu. Penelitian menunjukkan bahwa sikap – sikap terapislah yang
memfasilitasi perubahan pada klien dan bukan pengetahuan, teori, atau teknik –
teknik yang mereka miliki. Terapis menggunakan dirinya sendiri sebagai
instrument perubahan. Fungsi mereka menciptakan iklim terapeutik yang membantu
klien untuk tumbuh. Rogers, juga menulis tentang I-Thou. Terapis menyadari
bahasa verbal dan nonverbal klien dan merefleksikannya kembali. Terapis dan
klien tidak tahu kemana sesi akan terarah dan sasaran apa yang akan di capai.
Terapis percaya bahwa klien akan mengembangkan agenda mengenai apa yang ingin
di capainya. Terapis hanya fasilitator dan kesabaran adalah esensial.
2.
Tujuan Terapis
Rogers berpendapat bahwa terapis tidak boleh memaksakan tujuan – tujuan atau
nilai – nilai yang di milikinya pada pasien. Fokus dari terapi adalah pasien.
Terapi adalah nondirektif, yakni pasien dan bukan terapis memimpin atau
mengarahkan jalannya terapi. Terapis memantulkan perasaan – perasaan yang di
ungkapkan oleh pasien untuk membantunya berhubungan dengan perasaan –
perasaanya yang lebih dalam dan bagian – bagian dari dirinya yang tidak di akui
karena tidak diterima oleh masyarakat. Terapis memantulkan kembali atau menguraikan dengan kata – kata pa
yang di ungkapkan pasien tanpa memberi penilaian.
TEKNIK-TEKNIK
PERSON CENTERED THERAPY
Untuk terapis person – centered, kualitas hubungan terapis
jauh lebih penting daripada teknik. Rogers, percaya bahwa ada tiga kondisi yang
perlu dan sudah cukup terapi, yaitu :
1. Empathy
2. Positive Regard (acceptance)
3. Congruence
SUMBER