Contoh
kasus dari PERSON CENTERED THERAPY (ROGERS)
Seorang wanita lanjut usia datang ke tempat praktek seorang
psikolog karena memiliki permasalahan yang cukup mengganggunya untuk menghadapi
pensiun. Penampilan wanita lanjut usia ini dengan pakaian yang cukup ketat,
menggunakan hijab dan terdapat tatto ditangan sebelah kirinya. Setelah melihat
penampilan wanita lanjut usia itu tentu saja psikolog tidak boleh berprasangka
yang bukan-bukan pada klien ini, hal ini merupakan teknik dari salah satu
formulasi penting menurut Roger yaitu Positive
Regard, di mana terapis harus menerima keberadaan klien apa adanya tanpa
pembedaan baik dan buruk. Setelah itu proses wawancara dilakukan, klien
mulai menceritakan masalah apa yang dihadapinya. Klien ini bercerita bahwa
dirinya kurang dapat menerima bahwa dirinya sudah tidak bisa menjadi wanita
karir lagi akibat usianya yang sudah menginjak 54 tahun. Selama mendengarkan
keluh kesah klien ini, psikolog melakukan kongruensi, yaitu menyamakan pola
pikirnya dengan pola pikir klien walau mungkin tidak sesuai, dengan beranggapan
bahwa klien adalah orang paling ahli dalam kehidupan dan masalahnya. Selain itu
empati juga perlu dilakukan, psikolog mencoba ikut masuk dan merasakan apa yang
dirasakan klien melalui keluh kesahnya. Terapis menggunakan perasaannya dalam
menghadapi klien, dan terapis menjadi observer menggunakan seluruh inderanya.
Proses ini harus berjalan dengan formal tetapi nyaman, dengan tetap memegang
teguh etika. Selanjutnya psikolog mulai merancang program intervensi dengan
persetujuan dan disesuaikan dengan keadaan klien, mengingat tugas psikolog atau
terapis adalah sebagai fasilitator atau penyedia pasif yang mendorong klien
untuk bertanggung jawab dalam menentukan arah atau tindakannya sendiri dengan
menciptakan iklim terapeutik. Program terapi yang nanti dituangkan dalam informed consent terkait frekuensi dan
durasi terapi, biaya, penjadwalan, dan sebagainya. Untuk intervensi kasus ini,
psikolog memilih metode terapi relaksasi sehingga klien dapat memandang
berbagai permasalahan secara lebih positif dan dapat menjalaninya dengan lebih
optimis. Setelah itu psikolog memberikan kata-kata penutup yang baik dan
memotivasi sehingga klien dapat pulang dengan suasana hati yang lebih nyaman
dan tenang.
Teknik-teknik
1.
Psikolog harus tetap bersikap Positive
Regard setelah melihat penampilan klien
2.
Psikolog ikut berempati atau ikut
merasakan keluh kesah dari permasalahan klien setelah mewawancarai, mengamati
dan mendengarkan keluh kesah klien
3.
Psikolog melakukan kongruensi yaitu menyamakan pola pikirnya dengan pola pikir klien walau
mungkin tidak sesuai, dengan beranggapan bahwa klien adalah orang paling ahli
dalam kehidupan dan masalahnya. Kemudian psikolog merancang program intervensi
sebagai penyedia pasif untuk mendorong klien dalam menentukan arah dan
tindakannya sendiri. Setelah itu sebagai penutup psikolog memberikan kata-kata
yang baik dan memotivasi sehingga klien dapat pulang dengan suasana hati yang
lebih nyaman dan tenang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar