Minggu, 12 Maret 2017

Contoh kasus dari PERSON CENTERED THERAPY (ROGERS)

Contoh kasus dari PERSON CENTERED THERAPY (ROGERS)
Seorang wanita lanjut usia datang ke tempat praktek seorang psikolog karena memiliki permasalahan yang cukup mengganggunya untuk menghadapi pensiun. Penampilan wanita lanjut usia ini dengan pakaian yang cukup ketat, menggunakan hijab dan terdapat tatto ditangan sebelah kirinya. Setelah melihat penampilan wanita lanjut usia itu tentu saja psikolog tidak boleh berprasangka yang bukan-bukan pada klien ini, hal ini merupakan teknik dari salah satu formulasi penting menurut Roger yaitu Positive Regard, di mana terapis harus menerima keberadaan klien apa adanya tanpa pembedaan baik dan buruk. Setelah itu proses wawancara dilakukan,  klien mulai menceritakan masalah apa yang dihadapinya. Klien ini bercerita bahwa dirinya kurang dapat menerima bahwa dirinya sudah tidak bisa menjadi wanita karir lagi akibat usianya yang sudah menginjak 54 tahun. Selama mendengarkan keluh kesah klien ini, psikolog melakukan kongruensi, yaitu menyamakan pola pikirnya dengan pola pikir klien walau mungkin tidak sesuai, dengan beranggapan bahwa klien adalah orang paling ahli dalam kehidupan dan masalahnya. Selain itu empati juga perlu dilakukan, psikolog mencoba ikut masuk dan merasakan apa yang dirasakan klien melalui keluh kesahnya. Terapis menggunakan perasaannya dalam menghadapi klien, dan terapis menjadi observer menggunakan seluruh inderanya. Proses ini harus berjalan dengan formal tetapi nyaman, dengan tetap memegang teguh etika. Selanjutnya psikolog mulai merancang program intervensi dengan persetujuan dan disesuaikan dengan keadaan klien, mengingat tugas psikolog atau terapis adalah sebagai fasilitator atau penyedia pasif yang mendorong klien untuk bertanggung jawab dalam menentukan arah atau tindakannya sendiri dengan menciptakan iklim terapeutik. Program terapi yang nanti dituangkan dalam informed consent terkait frekuensi dan durasi terapi, biaya, penjadwalan, dan sebagainya. Untuk intervensi kasus ini, psikolog memilih metode terapi relaksasi sehingga klien dapat memandang berbagai permasalahan secara lebih positif dan dapat menjalaninya dengan lebih optimis. Setelah itu psikolog memberikan kata-kata penutup yang baik dan memotivasi sehingga klien dapat pulang dengan suasana hati yang lebih nyaman dan tenang.
Teknik-teknik
1.      Psikolog harus tetap bersikap Positive Regard setelah melihat penampilan klien
2.      Psikolog ikut berempati atau ikut merasakan keluh kesah dari permasalahan klien setelah mewawancarai, mengamati dan mendengarkan keluh kesah klien

3.      Psikolog melakukan kongruensi yaitu menyamakan pola pikirnya dengan pola pikir klien walau mungkin tidak sesuai, dengan beranggapan bahwa klien adalah orang paling ahli dalam kehidupan dan masalahnya. Kemudian psikolog merancang program intervensi sebagai penyedia pasif untuk mendorong klien dalam menentukan arah dan tindakannya sendiri. Setelah itu sebagai penutup psikolog memberikan kata-kata yang baik dan memotivasi sehingga klien dapat pulang dengan suasana hati yang lebih nyaman dan tenang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar